Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Masalah Ada Karena Tuhan Tiada Dihati



Kita hidup telah dilengkapi dengan tubuh, akal dan perasaan. Semua itu sengaja Tuhan berikan kepada kita untuk modal menjalani kehidupan ini. Ketika mulai hidup, manusia bertemu dengan berbagai masalah demi mempertahankan hidupnya. Ketika kita masih bayi sebenarnya kita sudah menghadapi masalah besar, kita belum bisa makan sendiri, belum bisa mandi sendiri, belum bisa apa-apa,  kita hanya bisa menangis ketika menginginkan sesuatu atau merasakan sesuatu. Untungnya ketika kita masih bayi ada Ibunda kita yang selalu setia disamping kita. Ketika itu beliaulah yang menangani semua permasalahan kita.

Waktu terus berjalan kita pun terus bertumbuh dan bertumbuh dan seriring pertumbuhan itu, kita pun semakin banyak menghadapi masalah. Masih ingatkah kita  ? ketika  sekolah SD kita sangat menginginkan untuk cepat-cepat lulus ke tingkat SMP, dalam benak kita terbayang sepertinya kalo sudah SMP akan lebih menyenangkan. Ternyata ketika memasuki SMP kita menghadapi tantangan yang lebih sulit. Dari pelajarannya pun terasa lebih sulit apalagi ketika kita menghadapi ujiannya. Ingin rasanya cepat-cepat menyelesaikan sekolah tingkat SMP dan segera lulus karena sudah mendambakan tingkat SMA. Akan tetapi yang terjadi sama saja , bahkan semakin naik tingkat tingkat kesulitannya semakin tinggi. Setelah SMA ingin kuliah dan ternyata sama saja, bahkan semakin berat tugas yang kita dapatkan. Kita  ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah dan ternyata sama juga bahkan setelah kuliah kita dihadapkan kepada kehidupan yang sesungguhnya.

Semula kita mengira bahwa ketika kita menyelesaikan satu tingkat dalam hidup ini kita akan lepas dari beban masalah dan tugas, ternyata semakin tinggi tingkatannya akan semakin berat terasa. Ini sesuai dengan pepatah “Semakin tinggi kita naik, Semakin kencang angin berhembus”. Jadi sebenarnya kita jangan pernah mengharap bahwa kita bisa lepas dari berbagai masalah hidup, karena selama kita hidup pasti ada masalah. Dan masalah tiap orang beda-beda tergantung tingkatnnya.

Permasalahannya adalah bukan berada pada masalah yang kita hadapi, akan tetapi mampukah kita menyikapi permasalahan yang kita hadapi dengan sikap positif? mampukah kita menjadikan masalah sebagi keberkahan? mampukah kita menjawab persoalan yang ada pada permasalahan kita sendiri? memang akan lebih mudah kita lari dari masalah, tapi percayalah bahwa lari masalah tidak akan menyelesaikan masalah, justru makin menambah masalah. Bagaimana tidak, ketika kita lari dari masalah sebenarnya diri kita sedang bermasalah yaitu ada masalah dengan dengan mental kita sendiri.

Setiap orang itu pasti punya masalah, ga orang miskin ga orang kaya ga orang pinter ga orang agak pinter. Hanya saja tiap orang punya cara sendiri menyikapi permasalahannya. Penyebab terbesar masalah itu menjadi beban buat kita adalah ketika kita lupa siapa Yang Membuat Masalah itu ada? siapa yang memberi kehendak masalah itu selesai? ya jawabannya adalah Tuhan Kita, Allah SWT. Kalau kita sudah tau yang memberikan masalah adalah Allah kenapa mesti bingung kemana cari solusinya, langsung saja kita minta solusi kepada-Nya, Gampang Kan?

Eh tar dulu, maen ngegampangin aja ni orang… lah emang gampang kok tinggal minta doang kan, ga usah pake mikir kan..  perkara dikasih petunjuk atau tidak mah udah dijamin sama Tuha.. Begini kata Allah “Dan apabila Manusia bertanya tentang Aku, maka katakanlah bahwa aku adalah Dekat, akan mengabulkan semua orang yang berdoa kepada-Ku”, tuh kan Tuhan bilang apa ama kita, pasti dikabulkan. Kok saya ga di kabulkan-kabulkan doanya, minta duit kagak dikasih-kasih, minta rumah gak dikasih-kasih, minta jodoh gak dikasih-kasih, kenapa sih padahal kata Tuhan pasti di kabul kalo berdoa..

Nah yang sering kita lupakan disini bahwa Tuhan memberikan syarat kepada kita kalo permohonannya ingin di kabulkan. apa syaratnya? nah pesan Tuhan Yang di atas ada lanjutannya, begini kata-Nya ” Maka penuhilah segala perintah-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. Dari syarat ini kita harus introspeksi terhadap diri kita sendiri, seberapa dekat kita dengan Tuhan? seberapa sering kita menggantungkan semua permasalahan hanya kepada-Nya? seberapa seringkah kita sombong bahwa kita mampu menyelesaikan semua masalah dengan kekuatan diri kita? seberapa sering kita melupakan-Nya?dan teruslah bertanya sama diri pribadi apakah aku termasuk orang yang sudah melaksanakan segala perintahn-Nya?