Kenapa Cinta Begitu Rumit?



"Ya Rabb Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah kami pada agamaMu"

Selalu saja begitu. Tak bisa di kalkulasi dengan hitung-hitungan matematis. Atau di prediksi dengan analisis. Terkadang memang tampak seperti tak logis. Tapi memang begitulah kenyataannya, cinta selalu menyisakan misteri.

Cinta adalah lautan perasaan. Susah di definisikan memang. Ia bersemayam di dalam hati. Di taman hati inilah ia bersemi indah. Atau justru layu , gersang, lalu berguguran meninggalkan luka yang sangat dalam. Oleh karenanya, cinta hanya bisa di rasakan. Ia memang tidak tampak oleh indrawi kita. Namun ia benar-benar nyata. Dengan cinta inilah segalanya bisa jadi berubah. Sekali lagi, bukan berubah secara fisik. Tapi berubah rasanya. Misalnya saja petani yang sedang mencangkul di sawah. Barangkali itu memang sudah menjadi aktifitas sehari-harinya yang melelahkan. Tapi dengan cinta, rasanya akan berubah. Andai di tengah kelelahannya ia membayangkan wajah istrinya dengan senyum yang mengembang. Atau wajah imut anak-anaknya yang selalu menyambut kepulangannya dengan ceria, kelelahan itu justru akan memekarkan senyuman kedamaian. Ia tak lagi melihat kelelahannya itu sebagai beban yang berat, namun ia melihatnya sebagai bagian dari wujud cintanya kepada keluarganya. Cinta memang ajaib. Ia bisa mengubah yang pahit menjadi manis.

Jauh sebelum cinta ini menjadi sebuah ungkapan yang jelas, dua hati yang saling mencintai tentu sudah saling menyapa di alam jiwa. Ada yang menarik disini. Ketertarikan antara dua hati tersebut sungguh sulit di prediksi. Wanita yang sangat lembut, bisa saja tertarik dengan lelaki yang kasar. Padahal kelembutan dan kekasaran adalah dua kutub yang berseberangan. Atau lelaki yang cerdas dan tampan, bisa jadi justru tertarik pada wanita yang sebenarnya tidak terlalu cantik dan juga tidak cerdas.

Masalah cinta itu adalah masalah perasaan. Itulah mengapa cinta menjadi sangat rumit, seperti permainan puzzle. Masalahnya bukan sesederhana dia cantik atau tidak, dia tampan atau tidak, dia punya kedudukan atau tidak, dan lain sebagainya. Namun ini adalah masalah kecocokan. Sama persis seperti puzzle. Jika ada dua potongan puzzle yang tidak cocok, maka ia tidak mungkin bisa di pasangkan. Jika dipaksakan, potongan itu mungkin akan patah dan rusak. Rumit memang.

Seperti kisah cintanya Umar bin Khotob. Suatu hari ia ingin meminang putrinya Abu Bakar As-shidiq. Ummu kulsum namanya. Ia adalah wanita yang sangat lemah lembut. Ia hidup di tengah belaian kasih sayang jiwa-jiwa yang lembut juga. Sedangkan Umar, ia adalah orang yang kepribadiannya keras. Barangkali kerasnya kepribadian Umar bisa berkolaborasi cantik dengan kelembutan Ummu Kulsum. Namun ternyata itu tidak terjadi. Wataknya yang lembut itu tidak bertemu dengan watak Umar. Melalui cara yang lembut, iapun menolak pinangannya.

Pinangan Umar di tolak. Padahal ia lelaki yang sangat istimewa. Dia punya kedudukan tinggi di mata kaumnya. Bahkan menjabat Khalifah dan pemimpin negara pada saat itu. Bisa dikatakan, ia adalah manusia yang paling sholih pada waktu itu. Namun apa boleh dikata, cinta memang rumit. Semuanya kembali pada kecocokan hati dan jiwa. Tidak ada yang kurang pada diri Umar. Hanya saja potongan jiwa Umar barangkali memang tidak pas jika di satukan dengan potongan jiwa Ummu Kulsum. Dan dalam perjalananya, ternyata Ia menemukan potongan puzzle yang pas dengan dirinya. Yaitu putrinya Ali bin Abi Thalib.

Itulah cinta. Ia lahir dari alam jiwa. munculnya selalu tiba-tiba. Kadang hati di buatnya gelisah, akal di buatnya terbaring tak berdaya. Maka hati-hatilah dengan cinta.