Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Riya yang tak disadari



Termasuk fitrah manusia senang  diperlakukan baik oleh orang  Iain. Disapa, dihormati, dipenuhi keperluannya, dan diberikan padanya sikap penuh santun. Merasa gembira dengan sambutan penuh kehangatan dari orang-orang di sekitarnya.

Akan tetapi ternyata, dibalik fitrah ini ada marabahaya. Ketika muncul perasaan tidak suka jika suatu ketika ada yang tidak menyapanya, tidak memberi senyuman padanya atau tidak membantunya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ketika muncul perasaan kurang dihormati apabila manusia tidak memberikan perlakuan yang istimewa padanya. Ketika muncul perasaan bahwa tidak semestinya orang memperlakukannya biasa-biasa saja seperti yang lainnya. Karena ia merasa ada kelebihan pada dirinya dari perkara agama sehingga mesti diperlakukan istimewa. Muncul perasaan berat, seolah-olah ia mengatakan, ” Mungkin dia tidak tahu siapa saya sehingga ia tidak menghormati saya”. Berhati-hati lah, ini lah riya’ yang sangat tersembunyi.  Allah ta’ala mencelanya sebagaimana firman Nya:

فَوَيۡلٌ۬ لِّلۡمُصَلِّينَ (٤) ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِہِمۡ سَاهُونَ (٥) ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ (٦

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” [Q.S. AI Maun : 4-6]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memperingatkan kita dari riya’ sebagaimana sabdanya :

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا وما الشرك الأصغر يا رسول الله قال الرياء

Sesungguhnya yang paling  aku takutkan dari yang paling aku khawatirkan sesuatu yang menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya, Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ’Riya’.” (H.R. Imam Ahmad)

Betapa tipis dan tersembunyinya riya’ ini. Perasaan senang diperlakukan baik oleh yang Iain, apabila muncul dengan sewajarnya sebenarnya tidaklah mengapa. Senang orang berbuat baik padanya adalah fitrah manusia. Akan tetapi, jiwa yang tulus, tidak terpengaruh dengan tidak adanya penghormatan khusus. Tidak merasa dirinya telah mencapai suatu martabat yang perlu diperlakukan istimewa. Bahkan jikapun orang seolah-olah berlaku kurang sopan padanya ia tetap biasa-biasa saja. Jika seperti ini keadaan sebuah jiwa maka ia selamat dari riya’. Dahulu para salaf sangat tidak menyukai jika diperlakukan istimewa oleh yang lainnya. Garis tipis pemisah antara riya’ dan ketulusan adalah ketika adanya ibadah tidak seperti tidak adanya dalam segala hal yang terkait dengan makhluk. Maksudnya adalah bahwa sebuah ibadah mestinya dilakukan tanpa memerhatikan keberadaan makhluk. Apabila ibadah itu dilaksanakan karena dilandasi demi mengharapkan pujian atau balasan dari makhluk maka ini tergolong riya’. Apabila kita merasa memiliki kedudukan khusus disebabkan ibadah yang kita Iakukan, kemudian secara sengaja atau tidak, kita merasa  harus dihormati, maka ini tergolong riva’ meskipun tersembunyi.

Semestinya dengan adanya ibadah yang kita lakukan tidak menjadikan kita berharap sesuatu pun dari makhluk meskipun perkara yang sepele. Semestinya ibadah yang kita lakukan tidak terpengaruh apapun meskipun tanpa adanya penghormatan padanya. Semestinya ibadah yang kita lakukan tidak menjadikan kita merasa harus diperlakukan istimewa sehebat apapun itu. Siapakah yang bisa menjamin ibadah kita pasti diterima oleh Allah? Jangan-jangan ibadah kita tidak diterima. Lalu dari sisi mana kemudian kita merasa lebih daripada yang Iainnya?

Riya’ yang tersembunyi dapat menghalangi pahala. Tidak akan selamat dari riya’ tersembunyi kecuali orang-orang yang sangat jujur dalam beriman dan beramal. Ia akan merasa bahwa amalan apapun yang ia Iakukan belum tentu diterima. Dan seandainya diterima pun ia sadar bahwa amalan itu ia lakukan semata-mata demi mendapat balasan dari Allah ta’ala. Sehingga perlakuan manusia sama sekali tidak ia toleh. Kebaikan manusia kepadanya tidak ia harapkan dengan sebab amal yang ia lakukan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan seorang yang sangat ikhlas, seperti seorang hamba yang terlihat lusuh dan tidak bernilai di mata manusia akan tetapi jika ia berdoa maka doanya dikabulkan. lnilah gambaran orang yang benar-benar ikhlas. Tidak mengharapkan perlakuan pengistimewaan dari siapa pun dalam bentuk apapun.

Maka hendaknya kita banyak-banyak bermuhasabah , banyak mengoreksi niat dan amalan. Jika tidak demikian, maka kita akan terus saja terjatuh  dalam riya’ baik disadari maupun tidak, baik tampak ataupun tidak.

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih rahimahullahu bahwa ada seorang hamba ia berkata kepada teman- temannya, “Sesungguhnya kita telah meninggalkan harta dan anak-anak kita karena takut melampaui batas (melalaikan akherat) akan tetapi pada saat yang sama kita juga harus khawatir jangan sampai justru kita terjatuh dalam sikap melampaui batas yang lain yang lebih parah daripada yang menimpa ahlu dunia dan harta. Sesungguhnya di antara kita, mungkin jika ditemui orang, ia suka untuk dihormati karena kedudukan agamanya. Dan bila memiliki keperluan, maka ia suka untuk dipenuhi kebutuhannya. Kalau  membeli sesuatu suka untuk dimurahi.  lnilah sikap melampaui batas yang lebih parah itu.

Sikap melampaui batas seperti inilah musibah besar yang dikhawatirkan menimpa orang-orang saleh melebihi besarnya musibah sikap melampaui  batasnya pencinta harta kepada hartanya.

(Mukhtashar Minhajul Qasidin lbnu Qudamah)