Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

DINDING BOCOR SEORANG ISTRI



Pernikahan selalu menarik untuk dibahas. Masih teringat jelas lantunan doa dari para sahabat di hari berbahagia kami, ‘baarakallaahu laka wa baaraka 'alaika, wa jama'a bayna kumaa fii khair.’ Ya, semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi kita semua yang benar-benar berniat menyempurnakan separuh agama dengan tidak melalaikan kewajiban menyempurnakan sebagian yang lain.

Sifat dasar manusia adalah ketidaksempurnaan, mau dicari sampai manapun sosok pasangan sempurna tidak akan ada, lebih-lebih jika ini dipandang dari segi keduniaan. Tetapi, rumah tangga yang sempurna dapat kita wujudkan, in syaa Allah, dengan adanya landasan iman dan taqwa. Kini kita hidup di zaman yang sangat jauh dari Rasulullah shallahu'alaihiwassalam, namun nasihatnya terhadap ummat selalu ada, termasuk dalam urusan rumah tangga.

Saya baru saja membaca sebuah kisah tentang beberapa wanita yang berkumpul hendak membicarakan rahasia suami mereka. Lengkapnya sila simak penjelasan yang lumayan panjang di http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2013/09/25/6525/pentingnya-menjaga-martabat-dan-kehormatan-pasangan-kita.html#.VCVjJRZHaM8

Duh, rasanya menyesal sekali, entah sudah berapa banyak rahasia rumah tangga kami yang terkucur ke khalayak dari mulut dan tangan ini. Pada setiap perkumpulan dan celoteh virtual di dunia maya. Semoga Allah mengampuni kami.

Pada artikel di atas dijelaskan bagaimana sifat 'ember’ pasangan suami-istri bisa (sering) terjadi di era modern. Dalam bahasa saya modern sama dengan perkembangan gila-gilaan media sosial. Meskipun pelajaran dari sikap teledor sudah sering Allah berikan, kekhilafan ternyata lebih dominan menguasai diri. Jika banyak orang yang tersungut-sungut dengan sikap Kak Florence Sihombing, saya justru lebih ngeri dengan banyaknya status-status dari para istri yang menceritakan (baiksecara implisit maupun eksplisit) kekurangan rumah tangga mereka. Kenapa hanya istri? Lebih bijak rasanya jika kita membicarakan sesuatu yang kita mengerti.

“Demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan dia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya.”

Adalah kutipan dari film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adaptasi novel karangan Gurunda Buya Hamka. Ya, benarkah kekejaman yang terjadi pada kita begitu besar, ataukah diri yang tidak bisa melihat perlakuan buruk kita kepada orang lain (pasangan)?

Tabiat manusia setelah bersanding dengan teknologi komunikasi adalah tidak terkontrolnya emosi, senang, sedih, stres, frustasi, marah, bebas ditumpahkan dan tentunya terfasilitasi. Maka sebaiknya jauhkan perangkat komunikasi Anda saat sedang terjadi masalah dengan pasangan. Pernikahan tidak seperti pacaran yang bebas saling sindir dan mengucap kata 'putus’. Pernikahan memiliki MoU yang disaksikan oleh Allah, isinya agar dua insan yang terikat tidak saling menyakiti dan membuka aib.

Seperti air yang menggenang, lama-lama ia akan menjadi sarang penyakit. Saya pun hampir menyamakan dengan rumah tangga yang statis, cenderung memunculkan banyak masalah. Maka dinamiskanlah rumah tangga dengan aktivitas produktif, agar kesempatan berpikir negatif semakin kecil, in syaa Allah.

Pernikahan berarti menyatukan dua manusia dengan segala hal rumit yang ada di dalamnya; sifat, kecenderungan, hobi, dan sebagainya. Yang sudah bertahun-tahun menikah saja masih gagap memahami karakter pasangan, apalagi yang baru seumur jagung. Semoga Allah memberakhi kisah cinta kita semua. Maafkan atas segala khilaf. :))