Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Masalah Setelah nikah



Habis baca artikel yang cetar tentang ‘nasib’ setelah nikah, dan itu yang saya khawatirkan sejak dulu :D

Dulu lagaknya sok iye, “Habis nikah stay di Bogor dan siap ke mana2 sendiri!.” Ternyata nggak bisa karena sang jodoh kerja di kota lain :D

Saya tak siapkan mental dan pikiran jika pada akhirnya kami jauh dari sahabat dan lumbung ilmu di Bogor. :D

Cinta bangetkah dengan Bogor? Nggak sih, cuma di sana sudah banyak tau tempat2 'nongkrong’ dan kenalan. Sudah kenal medan :p

Awal penikahan saya dan suami tinggal di satu kamar kecil kosan dengan kenalan seadanya, kami masih optimis pasti bisa aktif seperti dulu :D

Suami pergi kerja dan saya jaga kamar,bersih2 ringan. Pulang kerja dia mengajak saya keliling kota untuk cari kontrakan dan teman :D

Kontrakan alhamdhulillah dapat, tapi 'teman’ masih belum, perlu waktu beberapa minggu.

Hobi OL kami bermanfaat juga, suami kenalan dengan seseorang dan beberpa hari kemudian dia silahturahim ke rumah, barulah suami ngaji lagi.

Lantas, sudah selesaikah kisahnya? Belum. Semangat kami terkikis habis. Tidak ada diskusi2 hangat dan mabit hebat seperti dulu. Hari2 hampa.

Setiap hari berangkat kerja, pulang sudah lelah dan hanya tidur. Sementara saya kalau tidak ada suami ya bengong di rumah :D

Satu-satunya hiburan kami berdua adalah dengan tabligh akbar dua bulan sekali. Kadang diminta ke Bogor juga untuk silahturahim dengan teman2

2-3 bulan begitu, suami pun memutuskan untuk mencari 'tongkrongan’ yang nyambung. Hi hi. Sudah apply lamaran ke satu organisasi pusat tapi–

–nggak jadi karena respon sananya yang nggak ngenakin :D. Merana lagi deh beberapa bulan. Sementara itu saya sudah punya aktivitas tetap.

Saya ngadimin satu fanpage kreatif, kerjanya kalau suami lagi nggak di rumah karena harus fokus di depan laptop, nggambar :D

Balik lagii ke kemeranaan kami yang seperti kehilangan separuh jiwa (lebai). Saking pusingnya kami pun berencana untuk balik ke Lampung.

DI Lampung kami akan mengabdikan diri untuk rohis SMA. Eh lagi2 gak jadi karena pertimbangan maisyah, mau makan apa di sana? :p

Jeng jeng jeng… kemudian pintu cahaya terbuka lebar setelah kakak tingkat kontek, “butuh bantuan di organisasi X,” katanya.

Karena memang kepepet kita yang butuh, akhirnya nekad kami ambil 'tongkrongan’ itu meskipun jaraknya 50km lebih. Harus PP bolak balik.

Alhamdhulillah sampai sekarang kami nggak stres lagi :D Kami merasa kembali 'hidup’, tiap beberapa minggu harus ke Depok, capek ya pasti :D

Suami sekarang sudah nggak 'nganggur’, saya juga nggak bosen. Dia menikmati tongkrongan barunya, saya semakin bahagia dengan komunitas baru.

Benda yang cenderung bergerak akan bergerak, yang diam akan diam. Kalau yang dasarnya gerak terus disuruh diem ya berontak :D

Kami bersyukur padaNya karena setelah pernikahan tetap didekatkan dengan orang2 mulia, dengan gerakan kebaikan. Tidak diam hingga hilang.

Well, saya benaran takut jadi contoh muslimah yang justru mlempem pasca nikah, yang menjadikan rumah sebagai alasan untuk diam. :)

“Dakwahnya muslimah kan di rumah?” Oh ya, tapi kalau bisa dakwah dalam dan luar kenapa nggak? dua-duanya kewajiban tinggal pilih alternatif.

Dulu sempat jadi guru ngaji, tapi rumah malah nggak kepegang dan akhirnya resign. Sekarang sekalinya pergi itu puluhan KM, tapi dianter :p

Pernah punya pengalam buruk soal kendaraan >>> nyasar <<< jadi sekarang ketergantungan. Eh gak boleh ya? Harus berani! :D

Yah gitu deh, meskipun nggak seperti di Bogor kami tetap bersyukur karena masih bisa sedikit-sedikit mikirin akhirat :D