Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Tidak ada kata TAPI



Kekuatan Yang Menghancurkan

Saat Anda menemukan sebuah peluang hebat, ada sebuah kakuatan dalam diri Anda yang menghentikan Anda untuk menangkap peluang tersebut. Ya, kekuatan yang berlawanan arah, kekuatan yang menghambat diri Anda untuk bertindak. Itu adalah kekuatan yang muncul karena Anda mengatakan satu kata, hanya empat huruf, bahkan hanya tiga huruf dalam bahasa Inggris, yaitu tapi.

Mungkin Anda pernah berkata (mungkin dalam hati)

Sebenarnya peluang ini sangat bagus, tapi saya belum siap untuk memulainya. Lebih baik saya menunggu sampai kondisi saya siap.

Yah, tapi….

Kata tapi adalah salah satu kata yang memiliki kekuatan besar untuk menghentikan Anda. Tapi adalah kata negasi, dimana selalu memberikan lawan dari pernyataan sebelumnya. Peluang bagus adalah hal positif, setelah ditambahkan kata tapi, maka setelah kata tapi adalah hal yang negatif, yang menghentikan Anda. Biasanya, alasan apa pun yang keluar setelah kata tapi hanyalah alasan untuk menghentikan kemajuan Anda.

Ada sebuah buku (judulnya lebay), judulnya The Devil Only Know One Word. Buku ini buatan James Skinner, Mark Victor Hansen, dan Roice Kruger. Dalam buku ini dituliskan:

SETAN ITU CUMA TAHU SATU KATA… TAPI

Tapi, aku belum cukup tua.

Tapi, aku cuma bocah.

Tapi aku tidak terkenal.

Tapi, aku bukan lulusan universitas.

Tapi, aku tidak punya pengalaman.

Tapi, aku tidak punya cukup uang.

Tapi aku terlalu sibuk.

Tapi, aku tidak cukup cantik.

Tapi aku tidak cukup tampan.

Tapi, terlalu banyak persaingan,

Tapi, sudah ada yang melakukannya.

Tapi, bosku tidak setuju denganku.

Tapi, ekonomi sedang buruk.

Tapi, ini sangat sulit.

Tapi, aku terlalu tua.

Tapi, ini sudah terlambat.

Berhenti mendengarkannya! Sebelum terlambat.

Bagaimana dengan Anda, masih menggunakan kata tapi terhadap sesuatu yang positif? Berhentilah, maksud saya, bukan hanya berhentikan mengatakannya di mulut, tetapi dalam hati Anda. Sebenarnya perkataan di hati Anda yang benar-benar menghentikan Anda. Anda bisa saja tidak mengatakan tapi, bahkan di mulut berkata positif. Namun, saat hati Anda masih mengatakannya, Anda tetap saja tidak berhentik, Anda terhentikan.

Bagaimana Kekuatan Ini Muncul?

Kekuatan ini muncul karena Anda betah di zona nyaman atau karena Anda malas. Serius, jangan tersinggung. Saya harus menyebutkan penyakitnya secara jelas, agar kita bisa mengobatinya. Kekuatan ini juga bisa muncul karena memang benar-benar godaan dari syaithan. Sebagai contoh, saat panggilan dakwah menghampiri Anda,

Dakwah memang pekerjaan mulia dan sebuah kewajiban, tapi akhlaq saya sendiri masih perlu diperbaiki.

Jelas, saya melihat banyak orang yang berhenti berdakwah dengan alasan seperti ini. Padahal, kalau kita harus menunggu akhlaq sempurna, maka tidak akan ada orang yang bisa berdakwah kecuali para nabi. Justru, masuk ke barisan dakwah akan mendorong Anda untuk memperbaiki akhlaq pribadi secara terus menerus. Ya, tentu saja ini akan memerlukan pembahasan yang panjang (tentang Fiqh Dakwah).

Kata tapi, kemudian alasan yang mengikutinya biasanya berupa sebuah pembenaran dan pembelaan diri agar tidak disalahkan (padahal tetap salah). Yang pasti adalah, benar atau salah alasan Anda, tetap saja Anda terhentikan untuk meraih yang lebih baik.

Bisakah Menjadi Kekuatan Yang Memperdayakan?

Kata tapi memiliki kekuatan negasi, bisakah digunakan untuk membangkitkan kekuatan positif? Tentu saja bisa, Anda bisa menggunakan kata tapi untuk hal negatif agar berubah menjadi positif. Inilah yang dipegang oleh para juara.

Meski pun saya sudah capek berlatih, tapi saya terus berlatih untuk hasil maksimal.

Meski pun bisnis ini sudah banyak yang menjalankan, tapi saya akan membuat perbedaan.

Meski pun banyak yang menghujat saya, tapi saya tetap berdakwah karena dakwah saya demi Allah.

Meski pun saya sudah tua, tapi saya masih memiliki semangat.

Meski pun sudah terlambat, tapi tetap saya lakukan daripada tidak.

Meski pun ini sulit, tapi saya akan berusaha melakukannya.

Anda lihat kekuatannya?

Ya, kata tapi sebenarnya netral-netral saja, bagaimana Anda menggunakan kata tapi itu, apakah untuk meng