Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Tidakkah berpikir seperti anak anak akan membuatmu lebih riang?



Sebelum kau membaca lebih jauh, Coba bedakan keceriaanmu yang sekarang dengan keceriaanmu saat kau menjadi anak-anak.

Mungkin bukan hanya aku yang berpikir bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari sikap "anak kecil" atau masa kecil. Dan pasti, sangat pasti, kau dan aku pernah menjalani masa kecil dan pernah menjalani hidup menjadi anak kecil sebelum tumbuh dewasa. Dulu sekali saat aku kecil aku temukan beberapa diantara sebayaku bahwa mereka sungguh ingin menjadi besar, bergaya seolah sudah dewasa. Tapi sungguh, diusiaku yang ke-21 ini aku berpikir bahwa masa kecil itu banyak sekali yang patut dipelajari. "Tak pernah memikirkan resiko". Berpikirlah seperti ketika kau masih kecil. Dan jika aku menyuruhmu seperti itu, lalu apakah respon yang akan kau beri? Teriakkan jawabanmu hingga orang didekatmu terkaget oleh teriakkanmu, ini penting.
                                                                        
Beberapa di antara kita mungkin akan meremehkan cara berpikir seperti anak kecil. Yaa.. tapi sungguh meskipun aku sedikit jijik dengan masa kecilku tapi aku tak pernah meremehkan pola pikir anak-anak, meski orang dewasa lain turut meremehkannya. "Aish, anak kecil, bisa apa?" atau pikiran-pikiran lain yang orang dewasa gambarkan tentang anak kecil. Memang belum banyak pengalamannya dan masih belum ter-asah pikiran serta logikanya. Terus masalah? lagipula banyak kan orang dewasa yang meskipun sudah berkepala 3 tapi pikirannya juga tak terlalu tajam, tak pernah diasah!. Dan sesama orang yang sudah dewasa saja masih saling meremehkan pikiran satu sama lain. banyak kan yang tidak dapat menghargai pendapat yang lain? apalagi pendapat anak kecil.

But, there's something you must know. Terkadang kita perlu berpikir seperti anak kecil, untuk dapat merealisasikan apa yang ada di pikiran kita. Paham maksudku? oke sedikit aku jelaskan lebih rinci lagi. Pada saat kita masih kecil, apapun yang kita inginkan / pikirkan akan dicoba tanpa berpikir ke depan apa itu resiko nya.

Contohnya :
Jika kau ingin bermain bola dilapangan bersama teman-temanmu pada saat hujan badai sedang turun dan tak kunjung reda, kau akan tetap melakukannya bukan? tak pernah terpikir olehmu apakah nanti akan jatuh sakit atau sebagainya. (Ini aku)
Ketika kau ingin naik pohon, tanpa pikir panjang dia akan berusaha menaiki pohon tersebut.
Ketika kau ingin menjadi penyihir, langsung saja dia berkostum menggunakan sapu sebagai "sapu terbang"nya dan tongkat kecil sebagai "tongkat sihir"nya.
Ketika kau ingin menjadi Superman, langsung saja di berkostum menggunakan sarung/handuk sebagai sayap/jubah Superman.
Ketika kau ingin menjadi ninja, langsung saja berkostum menggunakan sarung untuk menutupi wajahnya agar menjadi seperti ninja.

Sudahkan paham maksudku? Mereka para anak-anak kecil itu Tak pernah memikirkan resiko, "Just Action", Ndak kebanyakan mikir. Ya tho?

Kebanyakan orang yang sudah melewati masa kanak-kanaknya (remaja & dewasa) akan berpikir 2 kali bahkan lebih untuk melakukan suatu hal yang dia sadari kalau perbuatan/kegiatan itu baik untuk dirinya dan bisa juga baik untuk orang lain juga.

Contoh kasusnya :
Kau ingin mendaftar kerja di perusahaan ternama di Indonesia, kau yakin sekali akan dapat membangun karir yang baik di sana. Tetapi yang kau pikirkan : "bisa ga ya saya bekerja di situ? ; aduh susah deh kayanya ; bekerja di sana seperti nya sulit ; nanti aku punya waktu buat istirahat ga ya klo bekerja di sana?". Dan karena kau kebanyakan memikirkan resiko, akhirnya kau ragu dan mengurungkan niat anda.

Ketika ada keinginan untuk menikah, padahal kau tau akan janjiNya bahwa akan dibukakan pintu rezeki untuk yang mengikuti ibadah sunnah ini kau akan tetap berpikir "bagaimana nanti aku menghidupi keluarga?" "Apakah aku sudah siap?" "Apakah aku pantas untuknya?", Aish sungguh kau terlalu banyak memikirkan resiko! (oke, ini aku, bukan kau)

Ketika kau ingin mencukur habis rambut kepalamu sampai habis botak kau akan berpikir "nanti jelek?" "nanti si dia ndak suka" "bagaimana jika yang tumbuh lagi keriting?" (ini bukan aku banget!)

Adakalanya kita perlu berpikir seperti anak kecil. Disini kita bedakan antara berpikir seperti anak kecil dan kekanak-kanakan. Yang kita patut contoh adalah cara berpikir mereka yang imajinatif, jujur, just do it, energik.

Bersikaplah dewasa, tapi berpikirlah seperti anak-anak (bukan kekanak-kanakan). Ini akan membuat anda lebih aktif daripada orang lain. Sehingga anda menjadi cepat tanggap dalam memanfaatkan peluang dan tidak bertele-tele kalau melakukan suatu hal / to the point.

Sebagai penutup, aku persembahkan video dari youtube. Yang merupakan alasan saya mebuat artikel yang berjudul "Berpikirlah Seperti Anak Kecil".