Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Hati Atau Kepala Yang Terlebih dahulu dihijab?



Ini karena aku peduli padamu, ini karena aku peduli pada umat, ini karena aku peduli pada perintahNya, "Islam memerintahkan kita untuk selalu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran". Baca disini : Kita adalah Islam
 

“Kenapa kok ndak pake jilbab?, muslimah lloh?”. 

 

Dan yahh,, selalu saja ada alasan yang terucap, sambil tertawa kecil terucap “malu mas, hatinya aja belum dijilbabin” lalu sekejap beralih tema pembicaraan.

Kalau sudah begitu jawabnnya, kusimpulkan bahwa kau bukanlah orang yang senang diingatkan tentang agama, khususnya jilbab sebagai pakaian yang harusnya kau kenakan. Sebenarnya dalam hati aku membenarkan jawaban itu, tapi.. ah, nanti saja tapi-nya. Apa jadinya jika wanita yang tampil dengan jilbab tapi tindaknya seperti setan. Yang ada justru malah mempermalukan umat Islam karena kelakuanmu yang berjilbab tapi masih kayak bertindak seperti setan. Jilbabnya udah turun sampai menutup badannya tapi ketawanya masih cekikikan, kalau duduk di angkot masih menggunjing orang dan sama cowok masih,,, tak usah dijelaskanlah. Akhirnya malah membuat citra Islam jadi lebih jelek.

Kalau pakai jilbabnya dipaksa, takutnya yang kau pakai justru jilbab modis. Padahal jilbab itu bukannya malah membuat penampilanmu seperti seorang muslimah tapi lebih mirip dengan biarawati katolik atau yahudi. Kasihan juga kalo pakaian umat lain justru di pakai olehmu. Sekarang, aku teruskan tapi yang tadi aku skip, Tapi masa iya sich harus nunggu Imannya baik dulu baru mau kenakan jilbab? Bukannya justru dengan kau kenakan jilbab Imanmu akan bertambah baik?
Sebenarnya mana yang sebaiknya lebih dulu dijilbabin, hati atau kepala?


Don’t look the book from the cover

Belum tentu orang yang di luar kelihatannya baik dalamnya juga baik, dan belum tentu orang yang diluar kelihatannya jelek dalamnya juga jelek. Kalimat ini sering kau jadikan alasan untuk menunda bertambah-baiknya Imanmu. Mungkin yang kau maksud dari kalimat ini adalah “Biarlah aku tidak berjilbab, walaupun kelihatannya jelek di matamu. Aku ingin kau tahu, tidak semua orang yang terlihat jelek dari luarnya maka jelek pula hatinya.” Yaaa.. Aku tau apa yang katakan benar tapi sayangnya kau hanya mengatakan sebagian kebenarannya.

Emangnya kenapa kalau orang melihat buku dari sampulnya? Emangnya kenapa kalau orang melihat melihatmu dari luarnya? Apa salah? Apa jadi masalah? Apa hal semacam itu membuatmu jadi ragu untuk terlihat baik? “bingung ya?, baik kusederhanakan lagi (yang artinya kupanjang-lebarkan lagi”

Coba kau tanya mereka yang tidak berjilbab untuk apa mereka sekolah. Mereka pasti menjawab supaya bisa mencari kerja. Lalu tanyakan lagi, “Emangnya setiap orang yang sekolah pasti diterima kerja gitu?” tentu saja jawaban aslinya tidak. Buktinya masih banyak lulusan S1 yang masih pengangguran tapi mereka pasti menjawab, “Kan cuma sedikit yang gak diterima. Lagi pula seenggaknya kan kita berusaha, supaya peluang kita diterima lebih gedhee.”

“NAH ITU TAHU!! THATS THE POINT!!” Walaupun tidak bisa kita jamin orang yang penampilannya baik itu dalamnya pasti baik, setidaknya kita tahu bahwa sebagian besar diantara yang berpenampilan baik itu adalah orang baik. Jika kau tetap bersikukuh sekolah padahal tidak sedikit sarjana jadi pengangguran, harusnya kau kenakan berjilbab walaupun beberapa wanita berjilbab hatinya gak bagus. Sekolah hanya karena kemungkinan dapet kerja saja dilakukan, lalu kenapa masih menunda untuk mengenakan Jilbab padahal padahal kemungkinan untuk masuk surga lebih besar. Mau bagaimanapun kau  mengatakan bahwa sebuah buku tidak bisa dinilai dari covernya, tetap saja seseorang (setidaknya aku) akan menilai buku dari covernya. Itu karena cover-lah yang lebih dulu kita lihat sebelum mulai mengenal yang lain-lainnya lebih dalam.

Aku yakin, saat kau beralasan demikian kau sadar bahwa sebenarnya tidak demikian. Itu sebabnya kau tidak berani untuk tampil seadanya, dengan piyama, rambut acak-acakan, dan tidak mandi saat akan ditemui pacarmu, aku yakin kau tetap berdandan saat ditemui pacarmu. Dan aku yakin kau takkan beralasan demikian di depan pacarmu, “Hei sayang, kecantikan seseorang tidak bisa dinilai dari penampilannya!”


Semua berawal dari dalam

Ya, kau lebih terdengar intelek ketika menggunakan alasan seperti ini. yang menggunakan alasan ini terdengar lebih intelek. Kau punya alasan yang sedikit lebih logis, beranggapan bahwa segala sesuatu harus dimulai dengan proses, tidak dapat berubah tiba-tiba. Semua harus dimulai dari dalam diri. Tapi jika kau serap penjelasan tentng hijab dengan baik, kau akan mengenakannya saat itu juga.  

Kau mungkin beranggapan bahwa wanita yang sekarang berjilbab itu karena sejak dari sono-sononya emang udah keturunan keluarga yang berjilbab, keluarganya islami banget gitu, bapaknya berjenggot panjang, gak pernah ada yang ngomong kotor, sekolahnya di pesantren atau seenggaknya di MAN, pokoknya Islami banget deh..

Padahal kan nggak gitu juga keles... Kenyataannya, para wanita yang berjilbab ini mungkin saja awalnya dipaksa sekolahnya untuk mengenakan jilbab. Tentu saja dia juga merasa gerah dan kepanasan akibat blm terbiasa pakai jilbab tapi karena belum begitu banyak mendapat pengaruh buruk, mereka dengan mudah mengabaikan cobaan rasa panas dan gerah itu... Kemudian mulai terbiasa mengenakan jilbab. Setelah itu barulah di sekolahnya mereka belajar dan mengerti mengapa memakai jilbab itu penting.

Begitulah, tidak semua hal harus dimulai dari dalam hati. Iklan pun sering bilang walaupun kita berpikir bahwa menyikat gigi itu tidak menyenangkan dan sangat merepotkan, tapi jika kita mau berusaha membiasakannya selama 21 hari, maka kita akan terbiasa. Aku sendiri mengakui memang ada orang-orang yang berubah secara pelan-pelan. Tapi mau berapa lama kalau mau menunggu, sampai kapan? Kalo telat gimana?. Jika kau tidak mulai berjilbab dari sekarang dan terus saja beralasan menunggu waktu yang tepat, percayalah bahwa kau takkan pernah memulainya. All you need is an action! Lets Do It!

Yang perlu kau lakukan hanyalah memulai. Coba tahankan dirimu menahan ejek teman-teman kalian 21 hari saja. Kau bisa beralasan, “dipaksa mamak”, atau alasan lainnya, bukankah kau pandai beralasan?. Dengan begitu saja seharusnya kalian sudah untung. “Walaupun kamu tidak mendapat kebaikan dari baju yang kamu kenakan itu. Setidaknya ia telah menghindarkanmu dari keburukan dan kemaksiatan.”

 

 

 

Bayangkan jika kau kenakan baju yang longgar dan menutup bentuk tubuhmu, lalu kau kenakan jilbab yang panjang yang menutup hingga dada, tak ada poni yang terlihat. Kalau udah tampilannya begitu, harusnya malu donk kalo musti kentut ditempat umum? Kau juga Jaga ucapan serta tingkah-lakumu. Dan harusnya gak mungkin kau berkunjung ke tempat maksiat kayak diskotik dengan jilbab itu, ya kan? Benar kan?

Baru pake jilbab aja untung segitu banyak. Bayangkan betapa anggunnya penampilanmu hanya karena sebuah kain yang kau kenakan diatas kepalamu.

Jika kau sering sial dapet pria yang gak bener. Dengan jilbab kau mampu menyaring pria asongan ini. Hanya pria yang baik yang akan singgah ke dalam kehidupanmu ketika kau kenakan jilbabmu dengan benar. Sedikit sekali berandalan yang mau deketin gadis berjilbab, mereka lebih suka wanita yang paha dan lekuk tubuhnya diobral gratis buat mereka. (yang artinya : cewek murahan).

Intinya adalah, suka tidak suka kau harus memulai dari sekarang. Rasa suka atau tidak suka itu wajar. Di dunia ini selalu ada malaikat dan setan yang mengajak ke kanan dan ke kiri. Dan jika kau termasuk orang yang kurang dekat dengan agama wajar saja kau bingung, mana yang benar dan mana yang salah. Jadi ketika kamu tahu kebenaran itu datang, kamu hanya perlu mencoba dan memulainya.

 

 


Jadi apa kamu masih mau menunggu untuk berjilbab? Atau kamu bisa mulai sekarang?

Karena perubahan bukan untuk ditunggu tapi dimulai.

 

 
Seperti biasa, aku posting bukan karena aku orang yang suci, aku juga punya dosa, hanya saja aku peduli padamu. YA, AKU PEDULI. Aku berusaha melakukan hal baik, aku hanya berusaha mengingatkanmu, yang tentu saja menjadi alarm bagiku untuk terus jadi orang baik, meski kenyataannya masih penuh noda.

Note : kayaknya gambarnya ga pas ya? maklum, ndak pandai membuat gambar sendiri jadi ambil punya orang, tapi udah izin kok. :D :D