Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Penjara Pikiran



Menyontek bukanlah perkara yang kecil dan perilaku ini bukanlah pelanggaran, melainkan perbuatan menyontek dapat dikategorikan sebagai suatu kejahatan.

Perbuatan tercela itu timbul akibat keputusasaan seseorang dalam menjawab suatu persoalan, sehingga berpikir untuk menyalin sebagian atau keseluruhan dari jawaban yang telah dibuat oleh rekan sejawatnya. Tindakan inilah yang membuktikan bahwa saat ini terjadi peningkatan kebutuhan untuk meyelesaikan dengan waktu yang singkat atau kita kenal dengan istilah praktis. Mengatasnamakan kepraktisan, sering kita temui produk tiruan yang sulit kita bedakan dengan aslinya.

Perbuatan berpikir inilah yang mesti disadari. Artinya kita sebagai manusia diberikan anugerah luar biasa yakni pikiran, dan kitalah yang harus mengendalikan pikiran kita. Bukankah kita sadari bahwa pikiran adalah sesuatu yang paling liar: fisik kita di mana, pikiran kita bisa kemana. Semoga peristiwa “skorsing atas penyontek” menjadikan kita sadar bahwa kita berhak untuk berkreasi, sehingga dapat menciptakan kreativitas yang tak terbatas, tapi di sisi lain kita diingatkan untuk menyadari untuk menjauhi sikap miskin mental, yakni meniru bahkan memakai teori orang lain tanpa menyebutkan sumber referensi yang kita pakai.

Kekuatan untuk berpikir dimiliki oleh semua orang. Manusia ada karena ia berpikir. Kekuatan berpikir manusia bersifat tak terhingga. Akibatnya, kekuatan kreatifnya pun tak terbatas. Sementara banyak orang yang seringkali memenjarakan pikirannya sendiri.Penjara itu berupa kata-kata:
“Tidak mungkin”,
“Tidak bisa”,
“Tidak mau”,
“Tidak berani”, dan tidak tidak lainnya, yang kerap menjadi penghalang kita untuk berkembang.

Sang Pencipta memberikan kita potensi untuk dikembangkan, secara positif dan semaksimal mungkin. Jadi, jangan mengizinkan keadaan apapun memenjarakan pikiran kita.

cogito ergo sum : "Aku berpikir maka aku ada"