Sebaik Dan Sebanyak Yang Kita Bisa



 
Lakuakanlah "Sebaik dan Sebanyak Yang Kita Bisa"!!!.. Istilah ini layak ditempatkan dalam konteks berbuat kebajikan, misal untuk pertanyaan, “Seberapa banyak kebajikan yang Anda lakukan?” Sebaik apa usaha yang Anda lakukan untuk meraih yang Anda Inginkan?? Maka jawablah, “Sebaik dan sebanyak yang saya bisa.” 

Sementara itu, Allah SWT telah berfirman, “Dia (Allah) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Barangsiapa yang diberi hikmah, sesungguhnya ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang mempunyai akal” (QS.2:269).
 
Firman Allah SWT ini mengingatkan, bahwa setiap manusia hendaknya bersedia memanfaatkan akalnya, agar ia mampu berhikmah, sehingga mendapat anugerah kebaikan yang banyak dari Allah SWT di dunia dan di akherat. Salah satu bukti pemanfaatan akal oleh manusia, adalah ketika manusia tersebut hanya mempertuhankan Allah SWT. Dan seharusnya manusia memiliki rasa malu jika tidak memanfaatkan akal dan pikiran yang dianugerahkan Allah SWT.
 
Ketika seorang manusia hanya mempertuhankan Allah SWT, maka ia akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan berdoa dengan khusyu, agar ia dapat mencapai visi, misi, dan tujuan hidupnya, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Seorang manusia yang hanya mempertuhankan Allah SWT, akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan berdoa dengan khusyu, agar dapat:
(1) menggapai ridha Allah SWT,
(2) melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dan rahmatan lil’alamiin, serta
(3) berhasil selamat di dunia dan di akherat.
 
Kemudian, bila ada pertanyaan, “Seberapa banyak kebajikan yang Anda lakukan?” Maka manusia tersebut akan menjawab, “Sebaik dan Sebanyak Yang Kita Bisa” Jawaban ini tepat, karena ia telah mengerahkan segenap potensi, kemampuan, dan keterampilannya untuk berbuat kebajikan. Bukankah Allah SWT memang tidak memerintahkan kita untuk berhasil melainkan untuk berusaha sebaik dan sebanyak yang bisa diusahakan? Masalah hasil itu serahkan saja kepada Jurinya, Yaitu Allah SWT. "Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?" (QS At Tiin : 8)
 
“Sebaik dan Sebanyak Yang Kita Bisa” sesuai dengan potensi, kemampuan, dan keterampilan masing-masing. Bila ia seorang pemimpin, maka ia harus menjalankan kepemimpinannya, agar Allah SWT berkenan meridhai ikhtiarnya. Demikian pula, bila ia seorang bawahan, maka ia harus menjalankan peran, tugas, dan fungsi kehadirannya di dunia, agar Allah SWT berkenan meridhai ikhtiarnya.

"Maka Manfaatkanlah Anugerah Yang Allah SWT untuk Membuka SurgaNya dengan Sebaik dan Sebanyak Yang Kita Bisa"