Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Kita adalah Islam



Kebanyakan mahluk bernama manusia menganggap apa yang menjadi miliknya adalah sepenuhnya miliknya, berpikir bahwa semua yg dimilikinya adalah haknya, berpikir bahwa tentu berhak penuh untuk menentukan apa yang menjadi nasib sesuatu yang kita miliki. Misalnya kita punya makanan, tentu kita bebas ingin menyimpannya, memanaskannya ulang, meembuangnya, melempar-lemparnya atau memakannya. Tentu kita bebas pula mau kapan ia dimakan, sekarang, ntar lagi, atau tunggu basi. Kebanyakan orang berpikir begitu. Terserahlah ini masih hal sepele.

Yang parah adalah ketika kita mulai memasuki abad modern. Di abad modern, kita cenderung berpikir individualis. Kamu ya kamu, aku ya aku. there is no us, tak ada yang namanya kita. Kepekaan sosial menjadi berkurang, kepedulian pun menghilang. Pada masa seperti inilah kata-kata itu semakin marak digunakan dan semakin populer. Mari kembali kepada yang benar.

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Islam mengharuskan kita untuk memiliki kepedulian sosial (kalau di agama lain silakan cari sendiri). Islam memerintahkan kita untuk selalu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.

“Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik dari mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (kafir). (QS Ali Imran: 110)

Jika saat kau menyuruh sanak saudaramu atau teman-temanmu menuju kebaikan dan menemukan jawaban seperti ini :
“Ngapain kau suruh-suruh aku pakai jilbab, mau masuk neraka atau surga itu urusanku.”

Maka Jawablah, “Masalahnya aku Islam. Aku wajib mengingatkan kalau ada yang berbuat salah. Karena saat tak ada yang mengingatkan orang akan mulai berpikir bahwa itu tidak salah. Aku juga tak mau masuk neraka gara-gara aku gak mengingatkanmu tentang hal ini.”

Terus misalnya dia jawab gini, “Tapi kenapa sampe maksa gitu sih. Kamu dakwah kok nyebelin, mana ada yang mau sama Islam kalau yang dakwah neyebelin begitu.”

Jawab aja gini. “Aslinya aku disuruh mencegah kemunkaran dengan tangan, tapi aku gak sanggup nampar kamu, makanya aku cegah dengan lisan, aku gak mau mencegah hanya dengan membenci kamu karena itu selemah-lemah iman. Dan setidaknya kewajibanku untuk mencegah sudah selesai. Kalau kamu gak mau patuh sama Islam karena pendakwahnya nyebelin, maka hari ini cobalah cari yang gak nyebelin. Aku sih gak rugi kalau kamu gak mau pake jilbab sekarang. Masak merajuknya ngerugiin diri sendiri. (masuk neraka)”


Ya begitulah, Islam memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Islam adalah kita. Tidak ada yang namanya lo-lo gue-gue dalam islam, Islam itu satu seperti bangunan, saling menguatkan satu-sama lain. Dalam islam kita mengenal surat Al-Ashr yang menyatakan kita termasuk orang-orang yang merugi kecuali kita saling nasehat-menasehati. Kita juga mengenal amar makruf nahi munkar yang menjadikan kita umat terbaik dari umat lainnya.

Urusan masuk nerakanya seseorang bukan hanya urusan dirinya sendiri tapi orang di sekitarnya. Seorang wanita saja harus ditanggung jawabi 4 laki-laki, Bapaknya, Anaknya, Suaminya, Saudaranya. 1 yang masuk neraka bisa menarik 4 lainnya juga masuk neraka, serem kan! Makanya kita harus peduli.

Owh iya, ada lagi, jika kau merasa semua yang kau miliki adalah hakmu, itu salah. Karena pada kenyataannya kau tidak memiliki apapun! Kau adalah hamba ciptaanNya. Dia yang memilikimu, dan dia yang berhak atas dirimu. Sudah sukur dikasi hidup, pengelihatan, pendengaran dan lidah, mau minta apa lagi?

Seperti pembuat cerita dalam novel, Tuhan bebas menentukan cerita hidup kita. Tapi sungguh Tuhan Maha Adil Maha Pengasih Maha Penyayang jika kamu percaya. Dia juga memberi kita kesempatan untuk merubah nasib jika kita mau berusaha. Padahal bisa saja Dia masukkan kita ke neraka semuanya karena bosan melihat kita melakukan maksiat yang sama tiap hari. Kurang sayang apa lagi coba?

Nyawamu adalah hak Tuhan. Tuhan ingin kau hdup hingga waktu tertentu. Mungkin 100 tahun lagi, atau mungkin hanya sampai besok, dan mungkin saja Tuhan ingin kau tetap hidup sampai kau bertemu denganku (yang ini jgn dianggap serius). HANYA KARENA KAU DIBERIKAN KEHIDUPAN, ITU SUDAH MENJADI HAL YANG SEHARUSNYA KAU SYUKURI. Hanya saja mungkin kau tidak membuka mata cukup lebar untuk dapat melihat semua nikmat yang belum dicabut darimu.

 

 

Sebagai catatan : aku posting ini bukan karena aku tak pernah atau tak punya dosa, aku hanya mengingatkanmu, berharap kau juga mau mengingatkan aku. Karena Islam mengajarkan untuk saling mengingatkan.