Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Marah Itu Perlu



Bayangkan Jika Islam Diinjak!!! Mungkin hanya sedikit yang sadar bahwa islam diinjak, dan dari yang sedikit itu, banyak yang tidak peduli. Dalam hal ini, artinya sangat sedikit sekali orang islam yang peduli akan islam, kebanyakan hanya mengaku islam namun tak menghayati islam. Jujur saja, aku merasa sedih dan marah akan hal ini, namun jika mengingat perilaku Rasul, marahku reda dan kupikir berulang-ulang apa yang harus dilakukan. Kemudian muncul pertanyaan dalam kepala anak kecil ini.


Pernahkah mendengar Rasulllah SAW bersedih? Jawabnya tentu pernah dan bukan hanya kejadian sekali.
Pernahkah mendengar Rasulullah SAW marah?  Jawabnya tentu pernah dan bukan hanya sekali.
Namun pernahkan mendengar Rasulullah SAW bersedih, marah, bahkan sampai melaknat dalam waktu bersamaan? rasanya tak pernah.

Setelah sekian lama aku tak menulis disini, kini aku kembali dan akan kuhadirkan sebuah kisah dimana Rasululloh SAW marah sampai melaknar suatu kaum.

Kejadiannya adalah ketika Rasulullah SAW sedih dan marah sekali tatkala mendengar kabar terbunuhnya 70 orang shahabatnya dibunuh. Tujuh puluh shahabat ini memang bukan shahabat biasa, mereka adalah para ulama yang telah beliau SAW bina bertahun-tahun. Belum pernah beliau SAW merasakan kecewa sedalam itu selama ini, sampai reaksinya melaknat dan mendoakan keburukan secara massal kepada suatu kaum. Boleh dibilang kasus ini sebagai anomali dari sifat-sifat agung yang dimiliki oleh Rasulullah SAW selama ini. Setidaknya, kesan yang selama ini kita dapat dari diri pribadi Rasulullah SAW, agak berbeda dalam kasus ini.

Sebelumnya ketika mendengar pamanda Hamzah bin Abdul Mutthalib gugur di Medan Uhud, Rasulullah SAW nampak berduka. Sehingga beliau SAW nyaris tidak pernah mau memandang wajah Wahsyi, yang telah membunuh pamannya. Bahkan hingga dikabarkan Wahsyi masuk Islam sekalipun. Tetapi lagi-lagi beliau SAW tidak sampai marah besar dan tidak pernah mendoakan hal-hal yang jelek kepada Wahsyi. Rasulullah SAW juga pernah ditawari oleh malaikat untuk menghancurkan kota Thaif, yaitu ketika penduduk Thaif menyambut kedatangan beliau dengan sambitan dan lemparan batu. Sehingga Rasulullah SAW terpaksa lari pontang-panting menyelamatkan diri, masuk ke sebuah kebun anggur. Saat itulah malaikat menawarkan jasa untuk membalas sakit hati. Tetapi Rasulullah SAW menggelengkan kepala, tanda tidak setuju.

Tetapi lain dengan kasus yang satu ini. Duka Rasulullah SAW yang amat dalam bercampur dengan amarah yang luar biasa dahsyat, ternyata menyatu sedemikian rupa, sehingga menimbulkan reaksi yang tidak main-main. Sampai sebulan lamanya beliau SAW mendoakan keburukan kepada kaum yang telah dengan tega membunuh para ulama dari kalangan shahabat.

اَللَّهُمَّ اشْدُدُ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِيْنَ كَسِنِيْ يُوْسُفَ
Ya Allah, keraskanlah siksa-Mu atas (kaum) Mudhar, Ya Allah, jadikanlah atas mereka musim kemarau seperti musim kemarau (yang terjadi pada zaman) Yusuf. (HR. Al-Bukhari)

  اَللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا وَفُلاَنًا
Ya Allah, laknatlah si fulan, si fulan dan si fulan.

Jarang-jarang kita mendengar doa Rasulullah SAW yang redaksinya sangat menyeramkan itu. Biasanya yang kita tahu, Rasulullah SAW mendoakan agar mereka dapat hidayat dari Allah SWT. Tetapi kasus ini memang agak lain.

Kisahnya dimulai Rasulullah SAW mendengar kabar bahwa ada satu kaum ingin masuk Islam. Dan kabarnya mereka meminta kepada Rasulllah SAW agar beliau mengirim para ulama ahli agama yang akan mengajarkan kaum itu berbagai ilmu agama. Disebutkan bahwa kaum itu adalah Bani Sulaim yang terdiri dari Kabilah Rilin, Hayyan, Dzakwan dan Ushayyah. Mereka pura-pura meminta kepada Rasulullah SAW agar mau mengajarkan mereka tentang Islam, padahal di balik sikap itu ada niat teramat jahat yang disembunyikan. Tentu Rasulullah SAW berbahagia sekali mendengar kabar ini. Sebab kaum itu bukan sekedar ingin masuk Islam, malah bersedia untuk memperdalam ilmu agama. Terdengar sebagai sebuah kabar yang indah, bukan?

Maka Rasulullah SAW pun mengutus para ulama yang ahli di bidangnya kepada kaum itu. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, sejarah mencatat jumlah mereka mencapai mereka tujuh puluh orang. Tujuh puluh ini terbilang banyak, sebab jumlah ulama terlalu sedikit di masa itu, hanya sekitaran 120 orang saja. Sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah total para shahabat yang mencapai 124 ribu orang.

Maka kalau sampai Rasulullah SAW mengirim hingga 70-an ulama kepada suatu kaum, berarti ini bukan proyek main-main. Tetapi sesampainya para ulama kesayangan Nabi SAW di sumur Maunah, mereka dibunuh secara kejam semuanya. Pada saat itulah tidak ada kesedihan yang lebih menyedihkan yang menimpa Nabi SAW selain kejadian itu.

Rasa duka yang mendalam serta amarah Rasulullah SAW saat itu boleh jadi sudah sampai puncaknya. Betapa tidak, atas kejadian itu maka kemudian beliau SAW melakukan qunut nazilah, yang intinya mendoakan kehancuran, keburukan dan juga memohon kepada Allah SWT untuk menghujani kaum itu dengan laknat dan kutukan. Doa qunut nazilah ini dilakukan secara berjamaah, diamini oleh seluruh shahabat yang ikut shalat di masjid Nabawi.

Dan dalam sehari doa ini dibaca sampai lima kali, artinya setiap kali shalat, doa mengutuk dan melaknat kaum itu tetap dibaca. Dan nyaris selama satu bulan penuh doa laknat ini tetap dikumandangkan oleh Rasulllah SAW di masjid setiap kali shalat, yang juga diamini oleh semua shahabat. Bahkan dalam lain riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW dalam qunutnya menyebut-nyebut secara eksplisit nama-nama penjahat yang merupakan pimpinan kaum terlaknat itu.

Aku posting ini, karena aku memang sedang marah, dalam hal lain pun aku marah, bahkan dalam doaku.