Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Retno Damayanti



Pada Sore hari

“Assalamu’alaikum….Yuni ya…”, pekik seorang perempuan seraya menatap orang di sampingnya di toko buku.
    “ Wa’alaikum salam warahmatulah….Retno ya. Subhanallah….apa kabar?”
    “ Alhamdulillah”
    Keduanya berpelukan lama sekali. Ditatapnya sohib SMAnya dari atas ke bawah.
    “ Ada apa…ada yg yg berubah ? Tambah subur ya…?”
 
Pertemuaan tak sengajanya dg Yuni, sohib SMA dulu membuat hatinya makin hampa. Sama2 diterima di IPB melalui jalur PMDK, 4 tahun tinggal serumah walau mengambil jurusan yg berbeda.  Retno ke Jepang dg beasiswanya melanjutkan S2, sementara Yuni ikut suaminya setelah menikah.
 
Hampir 4 tahun tak berjumpa setelah kepergiannya melanjutkan studi kemudian bertemu disebuah toko buku adalah suatu kejutan besar  Rasa kangen yg meluap ditumpahkan dg obrolan yg asyik dicafe dekat toko itu.
 
 “ Maaf Ret…aku kehilangan kontakmu setelah keluargamu  pindah ke Bandarjaya & kau sendiri pindah apartemen ga kasih kabar”
    “ Iya…..aku juga kehilangan kontakmu saat  kau pindah ke Banjarmasin. Tapi kok sekarang ada di sini?”
    “ Suamiku lagi ambil S3 di Kehutanan IPB. La kau sendiri? Lagi liburan?”
    “ Lagi libur musim dingin & kebetulan ada urusan di kampus”
    “ S2mu sudah beres?”
    “ Alhamdulillah……Desertasiku juga sudah diterima. Bulan depan aku mau terbang lagi ke Kyoto.”
    “ Barokalloh ya……smoga ilmunya nanti bermanfaat bagi masyarakat.  Tapi kok kelihatanya ga suka? Ada apa?”
    “ Ah ga apa apa kok”
    “ Oh iya ….maaf ya Ret…aku harus jemput anak2 di sekolah.  Mampir ke rumah ya, mumpung masih diBogor.  Nanti kita lanjutkan obrolannya, aku kenalkan juga dg malikat2 kecilku…awas lo ya kalau enggak. Bisa kualat”
    “ Ok…aku juga mau ke perpustakaan kampus.  Sudah lama ga nengokin. Insya Allah deh nanti aku pasti mampir”
 
Di perpustakaan Retno mencoba membaca. Namun sesungguhnya pikirannya melayang-layang. Memang seharusnya Retno bahagia, proposal S3nya diterima oleh Prof. Oshimura. Ini berarti 2 tahun lagi ia bisa menikmati indahnya Kyoto saat musim semi.  Namun ada saatnya seseorang tidak bergembira menerima sesuatu yg seharusnya membahagiakannya.  Demikian yg dirasakan Retno.
    “ Apakah aku bersedih?” gumamnya.  Bukankah ini keputusanku.  Jika aku sudah mengambil pilihan masa depan, seharusnya aku tak boleh bersedih.
 
Sebagai mahasiswi, Retno tergolong cerdas & manis juga.  Retno menyadarinya. Pria mana yg tak tertarik pada perempuan yg berwajah manis, berkulit kuning langsat dg mata berbinar bagai bintang pagi ditambah otak yg cemerlang.
 
 Semasa SMA siapa yg ga kenal dirinya.  Dg Yuni selalu menjadi andalan sekolahnya setiap lomba cerdas tangkas juga dalam karya ilmiah. Hanya dg Yuni, rival sekaligus sohibnya dia bersaing dan dapat mengalahkannya diakhir studinya, Yuni runner up dari 4  kelas A2 (Biologi). Retno the best.  Namun keduannya sama2 ke IPB, Yuni memilih GMSK, sedangkan dia ambil TIN.
 
Saat tingkat I, Retno banyak dikerumuni mahasiswa. Banyak yg mengincarnya. Tapi sejak remaja, ia pemilih. Pacarnya harus pria cakep, badannya proposional & kaya.  Pria itu juga harus menjadi pujaan para gadis tapi sementara itu dia harus mencintainya seorang. Dia ingin menjadi pemenang mutlak.
 
Di tingkat II, pandanganya mulai berubah seiring dg hijrahnya.  Calon suaminya kelak (bukan pacar) haruslah pria aktivis, lebih tua & cerdas agar bisa membimbingnya.  Tak lupa juga harus handsome serta berkecukupan. Namun Retno belum tertarik untuk memikirkan lebih serius.  Dia hanya konsen agar segera bisa menyelesaikan studinya.
 
Di tingkat III, Retno tidak menurunkan kriteria calon suaminya.  Dia lebih asyik dg organisasi juga akademisnya. Dia bersama timnya maju ke Final di LKIM (Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa). Namun kajian keluarga dia lahap juga. Tidak ada orang yg ga menginginkan membentuk keluarga Samara-(Sakinah Mawadah Warahmah).  Kajian sosial politikpun dia ikuti karna kehidupan ini juga ga lepas dari politik bukan dalam artian politik praktis saja.  Amanah yg diembanpun makin bertambah dg membina adik2 kelasnya. Waktunya begitu padat dg aktivitas.
 
Di tingkat akhir, diam2 Retno meninjau kriterianya. Dg bertambahnya usia, Retno makin dewasa dalam berpikir. Kriteria calon suaminya terlalu ideal. Dia juga ga ingin hidup bak di negeri dongeng, seperti Cinderella yg disunting oleh pangeran kaya, gagah & baik hati.  Namun kriteria utamanya tidak berubah yaitu seorang aktivis Islam walau tidak harus sekelompok yg penting hanif.  Retno tidak lagi mengkriteriakan harus cakep & kaya, yg penting bisa mencintai & menyayangi diri & keluarganya. Dia tidak merasa kesepian. Masih banyak saudaranya seiman yg bisa menemani dalam setiap aktivitas.  Apalagi sekarang hampir tak ada waktu untuk memikirkan hal itu.  Setelah PKL dia harus cepat menyelasaikan laporannya, juga mempersiapkan draf riset skripsinya. Belum amanah2 lainnya yg memang harus ia emban. Rasanya 24 jam sehari belumlah cukup.
 
Namanya Retno, lengkapnya Retno Damayanti, gadis asal Lampung keturunan Jawa.  Retno bukanlah perempuan yg ga menarik.  Malah terlalu ideal mungkin bagi para aktivis, sehingga banyak yg merasa inferior saat berhadapan dgnya. Kini semuanya menjelang senja.  Ia bukannya putus asa, ia hanya tidak mau memikirkannya lagi.  Biarlah ini menjadi takdir yg harus diterima, walau ikhtiarpun ia lakukan. Namun ia tidak akan mengobral dirinya. Kriterianya masih sama seperti dulu. Hidup tidak mesti tergantung pada pria.  “ Perkawinan bukanlah satu2nya kebahagiaan dalam hidup ini. Bukankah hukum asal menikah itu mubah? Aku ingin seperti Rabiah Aludhowiyyah, seorang sufi yg berkhikmat untuk umat.  “ ucapnya seorang diri.
 
Retno mantap dg pilihannya akan segera menyelesaikan S3nya & berkhikmat buat masyarakat.  Kalaupun ia harus melajang, ini adalah bagian ketentuan-Nya yg harus ikhlas ia terima. Retno menginginkan surga-Nya lewat jalan pengabdian lannya.  “ Bismillah”  Retno tersenyum seraya menutup bukunya dan meninggalkan perpustakaan menuju Rektorat.
 
Dari jauh tampak aku memperhatikannya sejak tadi.  Retno tidak mengetahuinya.  Aku Masih menatap kepergiannya.  “ Seandainya engkau terima pinanganku, tentu engkau tidak sendirian sekarang. Sesungguhnya aku mencintaimu setulus hati….” Ucapku lirih.  Kata yg seharusnya ku ucapkan, namun tersimpan hingga detik ini.

Aku hanya anak kecil bau kencur tak tau apapun.