Buku ensiklopedia sains islami kamil pustaka asli

Orang Tua dan Anak



Hei, Ufhh, begitu lama waktu yang kurasakan tak posting lagi disini, aku ceritakan sedikit kemana aku menghilang. Kau tau lampung? yap, sebuah provinsi dipulau sumatra yang paling dekat dengan pulau jawa. Biasa orang mengidentikan lampung dengan Gajahnya, Kopinya, Adat Nikahnya, malah ada yang menyebut lampung masih seperti hutan belantara (jika dibandingkan paris, memang iya). Lampung adalah tempat Mamak melahirkan aku, Lampung adalah tempat aku menangis untuk pertama kalinya. Pun terakhir kali aku menangis sebelum aku menuliskan ini, juga karena lampung. Tergugu karena ucapan Bapak, "Awakmu wes gede ngger, awakmu seng bakal nuntun adek-adekmu, dadi arek seng mbeneh yo" via suara, pesan Mamak juga tak kalah penting, tapi yang ini aku berniat untuk menyimpanya sendiri, Kalian takkan kuberitahu.

Jadi, Kemarin-kemarin aku sedikit sibuk belajar mengenai hubungan antar orang tua dan anak, Kewajiban dan Hak Orang tua, juga Kewajiban dan Hak Anak. Pasti tahulah kalo Islam adalah agama yang sempurna, Didalamnya terdapat petunjuk dalam segala aspek kehidupan, salah satunya adalah petunjuk bagaimana anak bersikap kepada orang tua dan bagaimana cara mendidik anak. Yang aku ingin kalian ingat adalah bahwa Hak anak adalah kewajiban orang tua dan Hak orang tua adalah kewajiban anak.

Ini kewajibab Orang tua dan Hak Anak Dulu.

1. Mencarikan Ibu Yang Baik.
Artinya adalah seorang laki-laki haruslah mencari istri yang baik (Sholehah), dan mampu mendidiknya menjadi lebih baik lagi. Agar kelak saat menjadi ibu juga akan mendidik anaknya dengan baik pula. Agar kelak menjadi ibu yang pandai mendidik anak, bertaqa dan mampu menjaga kehormatan dan membantu anak dalam mewujudkan cita-cita bersama. Kalian paham kan? Pokoknya Intinya, Cari istri yang baik biar jadi ibu yang baik untuk anakmu. "Trus gmana yang akhwat?" yang akhwat ya sama aja, beda dikitlah. Belajar jadi baik, biar dapet Suami baik, biar yang mendidik juga baik, biar bisa jadi ibu yang baik. Harus paham deh. Ini penting lloh.

Paling tidak memilihkan perempuan penyusu bayi yang shalihah untuk anak, apabila ibunya sudah tidak ada. Masa penyusuan yang paling utama adalah dua tahun penuh. Berdasarkan firman Allah swt:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan.” (al-baqarah: 233)

Banyak penelitian ilmiyah dan penelitian medis yang membuktikan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak secara alami dan sehat, baik dari sisi kesehatan maupun kejiwaaan. Ibnu sina, seorang dokter kenamaan, menegaskan urgensi penyusuan alami dalam pernyataannya,” bahwasanya seorang bayi sebisa mungkin harus menyusu dari air susu ibunya. Sebab, dalam tindakannya mengulum puting susu ibu terkandung manfaat sangat besar dalam menolak segala sesuatu yang rentan membahayakan dirinya.

                                                                     

2. Memberi Nama yang Baik
Ini juga ga kalah penting, Rasulullah saw diketahui telah memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau menjumpai nama yang tidak baik, beliau mengubahnya dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama laki-laki dan perempuan. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw biasa merubah nama-nama yang tidak baik. (HR. Tirmidzi)

Beliau sangat menyukai nama yang bagus. Bila memasuki kota yang baru, beliau menanyakan namanya. Bila nama kota itu buruk, digantinya dengan yang lebih baik. Beliau tidak membiarkan nama yang tak pantas dari sesuatu, seseorang, sebuah kota atau suatu daerah. Seseorang yang semula bernama Ashiyah (yang suka bermaksiat) diganti dengan Jamilah (cantik), Harb diganti dengan Salman (damai), Syi’bul Dhalalah (kelompok sesat) diganti dengan Syi’bul Huda (kelompok yang benar) dan Banu Mughawiyah (keturunan yang menipu) diganti dengan Banu Rusydi (keturunan yang mendapat petunjuk) dan sebagainya (HR. Abu Dawud dan ahli hadits lainAn-Nawawi, Al Azkar: 258)

Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud).

Bagaimana dengan namamu? sudah cukup Baikkah? dan jangan tanyakan namaku, kau tau jelas arti namaku.


3. Mendidik dengan Qur’an
Ini nih yang sering kelewatan, pada suatu bahasan saat aku belajar, disindirnya orang-orang zaman sekarang ini, yang namanya SD (Sekolah Dasar), dari namanya saja sudah DASAR, kok ya masih banyak orang tua yang memasukkan anak-anaknya di jenjang pendidikan di bawah SD, pada saat kami membahasnya, ini dikatakan tidak salah, namun aku yakinkan deh, ini salah, besok-besok jika kau sudah punya anak, atau kau yang sekarang sudah punya anak. Mbok ya dididik dirumah, diajarkan adab dan perilaku, Insya Alloh itu lebih baik, Ilmu dunia memang perlu dikejar, tapi ada waktunya, dan bukankah antar dunia dan akhirat kudu diseimbangkan? Trus dimana pelajaran anak untuk ilmua akhiratnya?

Hendaknya ibu mengasuh anaknya khusus pada masa buaian dan masa awal anak-anak. Jangan sampai ibu menyerahkan anak kepada pembantu dan pengasuh. Sebab, dalam aktivitas menyusui, selain ibu menyusukan air susu kepada anak, ia juga memberikan cinta dan kasih sayang yang tidak dimiliki oleh orang lain. Berdasarkan hal inilah dapat difahami hikmah Allah ketika Dia mengembalikan nabi Musa kepada ibunya agar sang ibu menjadi tenang dan tidak bersedih. Allah swt berfirman,


“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Al qashas:13)

Apakah dengan memasukkan ke TPA saja sudah cukup? malah bahkan kadang anak tak pernah sedikitpun menginjakkan kaki ke TPA. Didiklah dari rumah, Rumah itu tempat belajar anak pertama kali, menentukan masa depan, perilaku dan pola hidup anak lloh. Apakah aku dididik dengan baik? tidak terlalu, tapi aku sangat bangga dengan apa yang orangtuaku berikan. Ini ada sedikit cerita.

Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khathab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal. Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”

Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

Mendengar uraian dari Khalifah Umar ra anak tersebut menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, sedang dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku. Bahkan walau satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”

Hendaknya orang tua mengajarkan kitab Allah serta ilmu ilmu agama dan dunia yang wajib dikuasainya. Diriwayatkan dari Ali ra bahwa Nabi saw bersabda,”

“ ajarkanlah tiga hal kepada anak-anak kalian, yakni mencintai nabi kalian, mencintai keluarganya dan membaca al-qur’an. Sebab, para pengusung al-qur’an berada di bawah naungan arsy Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya, bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya. Dan, kedua orang tua yang memperhatikan pengajaran al-qur’an kepada anak-anak mereka, keduanya mendapatkan pahala yang besar.”



4. Menikahkannya
Dalam hal ini, jika kau adalah seseorang yang sudah memiliki sang buah hati dan dia telah memasuki usia siap nikah, maka nikahkanlah. Jangan biarkan mereka terus tersesat dalam belantara kemaksiatan. Do’akan dan dorong mereka untuk hidup berkeluarga, tak perlu menunggu memasuki usia senja. Bila muncul rasa khawatir tidak mendapat rezeki dan menanggung beban berat kelurga, Allah berjanji akan menutupinya seiring dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya, “Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)

kedua orang tua mencarikan istri yang shalihah bagi anak laki-lakinya dan suami yang shalih bagi anak perempuannya, kemudian membiayai acara pernikahan anak jika keduanya bercukupan.Keselamatan iman jauh lebih layak diutamakan daripada kekhawatiran-kekhawatiran yang sering menghantui kita. Rasulullah dalam hal ini bersabda, “Ada tiga perkara yang tidak boleh dilambatkan, yaitu: shalat, apabila tiba waktunya, jenazah apabila sudah datang dan ketiga, seorang perempuan apabila sudah memperoleh (jodohnya) yang cocok.” (HR. Tirmidzi)


Setiap kalian adalah ra’in (seorang penjaga, yang diberi amanah ) dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5200, dan Muslim no. 4701)

Kewajiban anak dan Hak orang tua pada postingan berikutnya ya..

Kau Akan jadi Pribadi yang baik, doakanlah keluargamu, bisa jadi mereka menjadi penolong di akhirat.