Adakah Orang Bodoh?



Kali ini aku ingin kalian berpikir sendiri saja, sedang tidak dalam keadaan yang baik untuk menjelaskan tentang ini, karena bagaimanapun aku masih terpukul atas kejadian serupa ini. Nantilah jika ngambekku sudah reda akan kujelaskan beberapa hal tentang kisah dibawah ini,

 

Suatu hari setelah pembagian raport, aku mendapati anak itu sedang sendirian menangis di sudut kamarnya di asrama. Aku bertanya kenapa dan mendengarkan ceritanya.

“Apa Tuhan itu Maha Adil?” tanyanya sambil menghapus air matanya.

“Apa maksudmu?”

“Kenapa kau bisa jadi ranking satu sementara aku tidak? Kenapa kau bisa jadi jenius matematika sementara aku tidak? Aku ingin sekali menjadi sepertimu. Apa kau tak sadar aku selama ini aku telah memata-mataimu?”

“Benarkah?”

“Ya, tadinya aku pikir ada semacam rahasia supaya bisa jadi jenius matematika seperti itu. Aku bela-belain pindah ke asramamu hanya untuk mencari tahu kebiasaanmu. Tapi tidak ada ritual rahasia apapun. Aku tidak percaya, ternyata kau hanya seorang gamer pemalas yang konyol.”

“Hehe, iya memang.”

“Tapi kau tetap ranking satu. Bahkan setelah aku telah meniru semua yang kebiasaan bodohmu, memakan semua yang kau makan dan melakukan semua yang kau lakukan. Kau pun tak tahu sudah berapa kali aku gunakan cara-cara kotor untuk menjatuhkanmu. Kau tetap ranking satu.”

“Mau bagaimana lagi?”

“Aku bisa terima jika Risa atau Diana yang jadi ranking satunya. Mereka cukup keras berusaha tapi kenapa harus kau? Kenapa harus kau yang banyak tertawa dan tidak pernah serius belajar yang jadi ranking satunya? Kau tidak pantas untuk itu.”