Dipecat Karena Syari, Wanita ini Sukses Berniaga



Ini inspiratif, sungguh inspiratif, tak aku posting jika ini tak inspiratif, setidaknya bagiku. Lets Read.

 

Mengenal kebenaran memang susah, tetapi lebih sukar untuk mempertahankannya. Apalagi jika mempertahankan kebenaran harus mempertaruhkan pekerjaan, penghasilan, keluarga, maupun kehidupan seseorang. Di titik inilah seseorang harus memilih antara dua hal yang sama-sama sulit. Maka, hanya mereka yang diberi petunjuklah yang mampu memilih dan mempertahankan pilihan dengan tepat.

Sebut saja namanya Muslimah. Salah seorang karyawati di sebuah perusahaan. Sebagai wujud ketaatannya kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, dia pun senantiasa mengenakan pakaian syar’i di tempatnya bekerja.

Muslimah ini hidup di tahun 80-an, saat dimana kehidupan Islami belum sesemarak sekarang. Bahkan, identitas-identitas keislaman masih terlihat jarang dan langka. Belum lagi dengan banyaknya oknum yang takut akan kebangkitan Islam, baik karena kebodohan maupun kebenciannya.

Lama menjadi karyawati berjilbab, Muslimah ini mendapatkan peringatan dari perusahaan. Ia dipanggil menghadap bagian personalia, kemudian mendapatkan pilihan sulit, “Lepas kerudungmu dan lanjutkan bekerja atau tetap kenakan jilbabmu, tapi keluar dari perusahaan ini.”

Tentu, ini adalah pilihan yang sulit. Apalagi untuk hidup di pinggiran Jabodetabek membutuhkan biaya yang tak sedikit. Kehilangan pekerjaan berpenghasilan bermakna menganggur, sementara untuk mendapatkan pekerjaan lagi tak semudah membalikkan telapak tangan.

Namun, di sudut yang berbeda, membuka kerudung yang menjaga kehormatannya adalah tindakan amat tak terpuji dan mengakibatkan dosa. Bahkan, uang yang didapat dari bekerja pun tak akan mampu untuk menukar siksa neraka dengan nikmat surga. Sebab, berpakaian syar’i adalah perintah Allah Ta’ala dan Nabi-Nya yang mulia.

Muslimah pun pulang dengan langkah gontai. Otaknya penuh dengan kemungkinan-kemungkian yang sebagiannya diciptakannya sendiri. Sesampainya di rumah, ia memanjatkan doa dan memohon petunjuk serta kekuatan dari Allah Ta’ala.

Lama berpikir, akhirnya ia mantap. Siap dengan semua konsekuensinya, ia akan mempertahankan kerudung yang penutup auratnya itu. Hari berbilang bulan kemudian, pilihannya untuk tetap berjilbab mendapatkan ‘buahnya’. Muslimah dipecat dari perusahaan.

Lantaran sudah bersiap diri dengan meminta petunjuk dan kekuatan dari Allah Ta’ala, Muslimah tak berlama dalam sedih sebab diputus hubungan kerja. Justru, dari hati kecilnya terlantun syukur sebab mampu mempertahankan keimanan adalah kenikmatan yang tak ternilai dengan rupiah sebanyak apa pun.

Ia pun bergegas memutar otak. Hingga didapatilah alternatif usaha, berjualan. Mulanya hanya sarapan untuk tetangganya. Kemudian selang beberapa pekan kemudian, dia mulai perbanyak produksi dan dipasarkan di depan pabrik yang telah memecatnya. Selalu seperti itu, setiap hari.

Qadarullah, beberapa bulan kemudian usahanya menunjukkan hasil yang signifkan. Pelanggannya semakin banyak, dan ia bisa membeli motor yang kala itu masih menjadi barang mewah bagi teman-temannya yang bekerja sebagai karyawan.

Bertambah waktu, Allah Ta’ala semakin memberikan kemudahan bagi Muslimah itu. Hidupnya semakin baik, pakaiannya semakin syar’i, dan ia lebih memiliki banyak waktu untuk shalat tepat waktu dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Benarlah, siapa yang melakukan sesuatu karena Allah Ta’ala, maka Dia akan memberikan balasan terbaik untuknya. [Pirman]

Sumber : http://kisahikmah.com/dipecat-karena-berjilbab-muslimah-ini-justru-sukses-berniaga/