Surat Terakhir



Terdengar bunyi bel di pagi itu menandakan semua harus bangun untuk sholat subuh berjamaáh. Padahal udara begitu dingin bak jarum menusuk tulang, di sisi lain dari kamar sebelah terdengar suara “Bangun! Bangun!! Bangun!!!” disertai gedoran di pintu kamar. Petugas keamanan “Pak Wahid” namanya, akan tetapi teman-teman seasramaku menyebutnya malaikat malik sebab terkenal kegalakannya. Setiap pagi ia berkeliling untuk mengecek setiap kamar bahkan tak segan menyiram santri yang masih bermalas-malas. Tersentak aku kaget dan terbangun, begitupun kawanku, Farhan namanya. Sebelum pak wahid sampai di kamarku bergegas kami ke kamar mandi untuk ambil wudlu.

Aku sudah siap dengan kitab Tafsir Ash Showiy karangan Imam Ashshowiy sarah dari kitab tafsir jalalain karangan Imam Jalaluddin Assuyuthi dan Imam jalaluddin Al mahalliy, karena sehabis dari mushola aku biasa langsung menuju kelas untuk mengikuti pengajian diniyyah Úlya langsung dari Romo Yai. Juga Farhan yang sudah siap dengan kitab Subulussalam sarah dari kitab Bulughul marram, dia mengikuti pengajian Ustad Hasan di kelas Wustho.

“Yok berangkat ke mushola sekarang?” ajakku. “Iya mas, tapi aku pinjem sandalmu yang satunya ya? Sandalku di ghosob nihh!!!” dengan muka memelas ia meminta ajin padaku. “Makanya sandalnya di taru di rak sepatu, kan masih lebar? ambil sendiri sana di rak sepatu” jawabku. Memang sudah jadi adat istiadat yang sudah mendarah daging, kebiasaan ghosob mengghosob di Pondok Pesantren, padahal sudah tertera jelas di qonun bahwa ghosob itu dilarang. Maka dari itu aku punya sandal dua pasang untuk sekedar jaga-jaga.

Rasanya berat banget mengikuti pengajian pagi itu, sebab mata masih ngantuk. Hampir semalaman aku ngelembur kejar hafalan untuk haflah akhirussanah. Syarat kelulusan minimal hafal 700 bait nadzam kitab alfiyyah karangan Imam ibnu Malik. Pada waktu itu aku sudah hafal sekitar 750an bait nadzam, sudah mencukupi syarat minimal sih, tapi mau aku khatamkan sekalian sampai 1002 bait. karena masih ada waktu sekitar tiga bulan lagi.

Akhirnya selesai juga pengajian pagi itu, bergegas aku pulang ke asrama. Ternyata di kamar sudah ada si Farhan yang sedang duduk santai dengan Novel di tangannya. Dia memang senang membaca Novel begitu juga denganku, kalau aku paling suka novel karangan Habiburrahman El sirazy sedangakan si Farhan paling seneng novel karangan Taufiqurrahman el aziziy. Keduanya memang Novelis terkenal dari kalangan santri tulen.

“Lohh udah pulang kamu?” tanyaku sambil nyeruput kopinya. “Udah dari tadi mas, kebetulan Ustad Hasan berhalangan hadir terus di badalin sama Kang Hasyim jadi pulangnya cepet” jawabnya dengan tetap membaca novelnya. “Mba’ Vita berangkat engga tadi mas?” lanjutnya. “Mana ku tau, emang aku bodyguardnya?” jawabku. “Yee kan tanya doang mas, mba’vita itu udah cantik, kalem lagi. Kayaknya cocok lho sama sampean. hhehe”. “ngomong apa ngelindur tho kamu itu” jawabku sambil kembali menata kitab-kitabku di lemari. “Lohhh satu Pondok ini gak ada yang memungkiri loo mas, senyumnya ibarat “Aisha” dalam novel ayat-ayat cinta, suaranya selembut “Lubna” dalam novel Rintihan seruling bambu, terus kecantikannya ibarat “Ana Althafun Nisa” dalam novel KCB” jelasnya. “hhha bisa aja. kamu itu kebanyakan baca Novel, makanya banyak menghayal. Sudah hafal berapa bait kamu buat naik kelas Ulya nanti?” tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan. “baru dikit mas” jawabnya. “Nah gitu kok udah menghayal kemana-mana” tegasku. Lalu aku hidupkan alarm HPku karena ada bimbingan skripsi pukul 10, waktunya melepaskan kantukku yang sudah ku tahan sedari tadi.

Tak terasa hari demi hari terlewati dan tiba waktunya untuk mulai persiapan Haflah, kegiatan diniyyah sudah diliburkan untuk para santri mempersiapkan kelasnya masing-masing. Terutama kelasku yang akan diwisuda. Aku selaku ketua kelas mengumpulkan rekan-rekan untuk membahas persiapan wisuda kami. Semua hadir kecuali Vita, ya Vita azzahra yang kabarnya sedang sakit, untuk itu kami bersepakat untuk menjenguk di kediamanya. Lima santri wati dan tiga orang rekan sekelasku ditunjuk untuk ikut, aku sendiri harus ikut sebab aku ketua kelasnya.

Keesokan hari kami bernagkat dengan diantar oleh sopir pondok. Sudah jadi kebiasaan kami menjenguk rekan yang sedang sakit. Sesampainya disana aku lihat wajahya putih pucat. Vita memang sosok santri wati yang terkenal cerdas dan cantik, tak heran kalau banyak yang mengaguminya. Tak terkecuali si Farhan yang langsung menanyakan keadaanya sepulangnya aku dari sana. Baru saja aku buka pintu langsung disambut dengan pertanyaan si Farhan “bagaimana keadaan mba Vita mas? Baik-baik saja kan?”. “Ya begitulah, namanya juga orang sakit, pucat lesu” jawabku. “sakit apa mas emangnya?” lanjutnya bertanya. “enggak tau” jawabku. “piye tho mas, lawong njenguk orang sakit kok enggak tau sakitnya?”. “nanti banyak tanya dikira wartawan, kita doákan saja mudah-mudahan cepat diberi kesembuhan terus kembali ke pondok” jawabku. “Cieee ada yang aneh nihh?” candanya “lohhh kan sesama muslim harus saling mendoákan?” jawabku “tapi jawaban mas fahmi itu lhooo penuhh penghayatan? hhhahaha” lanjutnya. “wess lahh, aku capek mau Istirahat dulu. Ngladenin kamu tuh ora ono rampunge” jawabku tegas.

Baru saja aku baringkan badanku untuk istirahat HP jadulku berbunyi menandakan ada pesan masuk.. “Udh sampe pondok blm kang? tDi khujanan engg?” “alhamd udah, enggak kok. maaf ini siapa?” balasku dengan heran. Tak lama dari itu ada balasan “ini aQ vita kng, makasih ya kng udh repot jenguk k’rmah?” balasnya. Aku kaget karena tak ku sangka ternyata itu adalah vita. Aku berusaha bersikap biasa saja karena di sampingku ada si Farhan, jangan sampe dia tau. Kalau sampai dia tau bisa habis aku diejekin terus sama dia. “iya sama-sama, tadi juga kami udah ngrepotin ibu mu, apalagi si adi makannya banyak. Hehehe” balasku. “ga’papa lah kng, ya wajar dia bDanNy gemuk. dRi pD smpean kurus? hhhehe” candanya. “lahh mlah ngeledek… uDh mending skrang smpean istirahat biar cepat smbuh trus kpondok lagi. Wallahu yasyfik” balasku. “iya kang, syukron ya” jawabnya. Muncul perasaan aneh dalam hatiku, membuat aku berfikir tentang vita. Ya vita, yang menjadi primadona para santri putra.

“Dorrrrrrrr!!!” suara Farhan mengacaukan lamunanku. “Astaghfirullah, kamu ini ngagetin aja han” kataku. “Mas fahmi itu lho kok yo senyam-senyum dewe, jangan-jangan sanpean kena virus mas?” ejeknya. “viruss opo?” tanyaku heran. “Virus Cintrong” jawbnya. Sambil ngeloyor keluar aku jewer kupingnya “aku mau ke kantin. Ngopi yokkk? mau ikut engga?” ajak ku. “adu duhhh… ampun mas!!! Cuma becanda” pekiknya. “iya mas nanti aku susul” lanjutnya.

Tiga bulan berlalu dan hari yang dinantikan seluruh santri telah tiba, yaitu haflah akhirusssanah dan keesokan hari adalah hari wisuda perkuliahanku. Benar-benar momen yang sangat membahagiakan, tapi sayang kedua orangtuaku tidak bisa hadir. karena memang tempat tinggalku yang cukup jauh dan ketidak mampuan orangtuaku untuk sekedar menghadiri wisudaku. Aku memang dari kalangan orang yang tidak punya, untuk kuliah kebetulan aku mendapatkan bea siswa dari kampus. Sedangkan orangtuaku menggadaikan sepetak sawahnya untuk biaya kehidupanku selama di pesantren. Sudah empat tahun ini aku sama sekali belum menengok keadaan orangtuaku, hanya sesekali mendengar suaranya melalui telepon atau memandang foto ayah ibuku yang memang aku bawa dari rumah sewaktu aku berangkat dulu. Tak terasa air mataku meleleh karena kerinduanku kepada ayah, ibu dan adikku.

Ya Allah…
Mudahkanlah urusan kedua orang tuaku,
panjangkan umur mereka,
lapangkanlah rezeki mereka,
berilah keistiqomahan kepada mereka untuk beribadah kepadaMu…
Karena aku tau engkau adalah dzat yang Maha kuasa atas segala sesuatu…

Bismillah!! dua tahun lagi Insya Allahh!! tekatku. Sebab di pesantrenku, setelah menyelesaikan kuriklum diniyyah diwajibkan mengabdi terlebih dahulu selama dua tahun.

“Assalamualaikum” terdengar suara Farhan. “Waalaikumsalam baru pulang sekolah tah kamu han?” jawabku. Sambil kubuka pintu kamar yang memang aku kunci. “iya mas, Selamat ya mas atas wisudanya? maaf kemaren aku gak bisa dateng pas mas fahmi diwisuda, soalnya sehabis haflah aku langsung pulang kampong. Eh iya mas ini ada titipan buat mas fahmi” katanya. Aku sendiri bingung “iya gak papa kok. titipan dari siapa han??” tanyaku heran. “Mau tau aja, apa mau tau bangett? hhehee” ledeknya. Langsung saja ku ambil dan kubuka titipan itu, yang ternyata sepucuk surat dari vita.

Untuk Kang Fahmi

Assalamuálaika ya muásyiqo qolbiy_lladzi yuhibbuhu ahlul jannah.
Kang Fahmi yang baik hatinya,
Sebelumnya aku ucapkan selamat atas prestasimu mendapat predikat camloud di perkuliahan dan preedikat jayyid jiddan di pondok. Maaf ya kang aku tidak bisa turut menyaksikan wisudamu, soalnya aku pulang bareng farhan setelah haflah. Tapi doáku semoga yang sampean peroleh bermanfaat untuk umat. Aminnn…
Kang Fahmi yang baik hatinya,
Terus terang aku kagum dengan kesungguhan dan kesabaran sampean selama hampir lima tahun ini hingga membuat kedua orang tuamu bangga. Farhan sudah menceritakan semuanya, tentang sampean juga keluarga sampean. Bagai mana smpean sampai disini, bagai mana sampean bisa berkuliah hingga keberhasilan sampean saaat ini…
Mohon maaf ya kang kalau sudah menyita waktumu membaca tulisan jelek ini… ^_^ ^_^

Wassalam,

Vita,

“Ehemmmmm!! Ya Muásyiqo qolbiy, wahai kerinduan hatiku” Suara Farhan merusak konsentrasiku dan seketika mukaku memerah, sebab tanpa aku sadari ternyata dia ikut membaca surat itu dari belakang. Aku juga heran kenapa vita menggunakan kata-kata itu. Aku kembali melihat isi surat itu “Kamu cerita apa saja han?!!!” tanyaku sambil mengerutkan dahi. “Ampunn mas, cuma dikit kok!!!” sambil dia lari keluar.
Pada saat itulah aku mulai dekat dengan vita. Kedekatanku dengannya berlangsung hingga kurun waktu satu tahun. Ternyata benar kata Farhan, senyumnya ibarat “Aisha” dalam novel ayat-ayat cinta, suaranya selembut “Lubna” dalam novel Rintihan seruling bambu, dan parasnya ibarat “Ana Althafun Nisa” dalam novel Ketika Cinta Bertasbih ” perasaan yang semakin membuncah dan membuat aku malu-malu ketika kebetulan ketemu. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta?
Waktu begitu cepat berlalu. Satu setengah tahun sudah, kulewati waktu dengannya penuh suka cita. Namu setengah tahun kemudian aku merasa mulai aneh. aku rasakan vita mulai berubah. Bahkan ia memilih untuk pulang ke rumah dan tidak kembali lagi ke pesantren. Entah sebab apa, tak pernah ia jawab tiap kali aku tanyakan. Hingga akhirnya aku kembali mendapat sepucuk surat yang dititipkan kepada Farhan. Surat yang berbeda dengan yang pertama kali aku terima darinya.

Untuk Mas Fahmi

Assalamuaálaikum Wr. Wb
Mas Fahmi
Mungkin sampean bertanya-tanya kenapa aku titipkan surat ini, dan mengapa aku memilih pulang ke rumah. Saat ini akan aku jawab dan mudah-mudahan jawabanku bisa sampean terima dengan baik.
Mas Fahmi
Aku tau sampean sangat mencintaiku, dan aku ucapkan terimakasih untuk semua itu. Akan tetapi aku juga meminta maaf, karena barangkali kita usaikan saja hubungan kita sampai disini. Sebab aku memilih hidup bersama orang yang menjadi pilihan orang tuaku dibandingkan denganmu.
Mas Fahmi,
setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang layak, tidak terkecuali aku. Aku tidak tau akan seperti apa jika aku teruskan hubungan ini denganmu hingga jenjang yang lebih jauh lagi.
Aku tau jawaban ini amat menyakitkanmu, akupun siap jika harus kamu benci. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih untuk semuanya, dan maaf atas hal ini.

Wassalamualaikum wr wb

Vita
Tak tau apa yang aku rasakan usai kubaca hingga akhir tulisannya itu, kubaca berulang kali seolah tidak percaya apa yang aku terima. Amat sakit, begitu pedih bak belati yang menyayat hati. “Kau pembohong!, kau pendusta dan kau pengkhianat vita? kau bilang mau menerimaku dengan segala keterbatasanku, kau bejanji untuk menjaga hati dan perasaanmu. Tapi yang kau lakukan saat ini jauh berlawanan dengan apa yang sudah kau ucapkan” kata-kata itulah yang muncul seketika itu juga. Begitu membekas, seolah luka yang tidak akan pernah sembuh.

Masa pengaabdianku di pesantren telah berakhir dan aku memilih untuk pulang menemui kedua orangtuaku, enam tahun sudah lamanya aku tidak melihat wajah ayah dan ibuku. Aku sudah berpamitan kepada Romo Yai, teman-teman juga Farhan yang sudah aku anggap adikku sendiri, yang sudah membantuku dan mengurusiku ketika sakit. Dia menyarankan padaku untuk berkunjung ke rumah vita, sekedar berpamitan sebelum pulang. Aku fikir ada benarnya jika aku turuti sarannya, sebab belum tentu aku bisa bertemu lagi setelah ini.

Setibanya di rumah vita, aku melihat sepasang orang tua yang aku yakin itu adalah orangtua vita. “Nak Fahmi kan?” ibunya bertanya. “Masuk dulu nak” sambung ayahnya. Aku bingung memilih kata-kata untuk memulai pembicaraan. “Bagai mana kabarnya Bpak dan ibu?” tanyaku. “Alhamdulillah kami masih diberi panjang umur” jawab ayahnya. “Lalu bagai mana kabar vita bu? apakah dia ada di rumah? sekalian saya mau pamitan karena masa pengabdian saya sudah habis dan saya akan pulang ke kampung” tanyaku kepada mereka. Akan tetapi mereka malah saling berpandangan dan membuatku kembali bertanya “Apa vita tidak ada di rumah atau ikut suaminya di rumahnya sendiri?” Ibunya menangis tergugu yang membuatku malah menjadi semakin bingung. Akhirnya Ayahnya pun menjawab “Begini nak fahmi, vita tidak lagi ada di rumah ini, tidak juga menikah, apalagi ikut suaminya” “Lalu dimana pak?” tanyaku aku semakin penasaran. “Mari nak ikut kami akan kami antarkan kamu menemui vita”. aku ikuti kedua orangtua vita. Dengan manaiki Honda CRV kami menuju suatu tempat yang tidak aku ketahui dengan jalan yang basah sebab gerimis. Rasa penasaranku tidak terjawab sebab bukanya menemui vita, mereka malah membawaku ke pemakaman. Entah apa maksudnya aku pun semakin tidak mengerti.
Akhirnya rasa penasaranku terjawab ketika aku melihat sebuah makam yang di atasnya terdapat hiasan burung merpati terbuat dari plastik, yang pernah aku buatkan untuk vita jadikan hiasan di kamarnya. Aku tak bisa menahan lagi, seketika itu juga air mataku menetes. Langit seakan ikut menangis, tetesan gerimis siang itu seakan menggambarkan derasnya tetesan tangisku.
Ibunya berkata disela sesenggukanku “sebenarnya vita terkena kanker otak sejak setahun yang lalu, sakitnya semakin parah akan tetapi ia bersikukuh tetap di pesantren hingga akhirnya kami memaksa dia untuk pulang dan dirawat, sebenarnya kami ingin menghubungimu. Akan tetapi vita melarangnya sebab ia tidak mau membebanimu. Sebelum meninggal vita menitipkan surat ini untuk diberikan kepadamu, dia bilang kamu pasti datang menemui kami. dan kata-katanya terbukti pada hari ini,” di tengah gerimis didepan makam vita kubuka surat terakhirnya itu.

Teruntuk Kekasihku
Fahmi Abdullah Khairul Azzam

Assalamuálaik ya habibiy_lladzi yuhibbuhu ahlul_jannah
Kekasihku yang baik hatinya,
Kutulis surat terakhirku ini dengan penuh linangan air mata, dan ketika kau baca surat ini mungkin aku telah tiada.
Aku yakin saat kau baca surat ini kamu sudah menemui kedua orang tuaku dan memahami mengapa aku menulis surat yang aku titipkan kepada farhan waktu itu.
Akupun bisa membayangkan kesedihanmu tatkala membaca surat dariku waktu itu,
Aku hanya menginginkan dirimu mendapat penggantiku yang lebih baik, dan melupakanku meskipun kamu membenciku pada waktu itu.
Kekasihku yang baik hatinya,
Aku minta maaf karena selama ini aku menyembunyikan penyakitku darimu, aku tidak ingin kamu terbebani atas apa yang aku rasakan. Aku yakin kau adalah orang yang beriman, kau juga sudah tau bahwa ini semua sudah ditentukan oleh Allah dan sudah tertulis di mega server lauhilmahfudz.
Kekasihku yang baik hatinya,
Aku tidak pernah meragukan kecintaanmu terhadapku, begitupun denganku yang sangat mencintaimu. Kau pernah mengatakan padaku bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha berkuasa atas segala sesuatu, kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama didunia ini. Akan tetapi, jika cintamu benar-benar murni karen Allah aku yakin mudah bagi allah untuk kelak mempertemukan kita kembali.
Kekasihku yang baik hatinya,
Ikhlaskan kepergianku, karena dengan keikhlasanmu itu yang menjadikan aku tenang.
Wassalam,

Yang mencintaimu hingga akhir hayat,

Vita Azzahra

Cerpen Karangan: Badrussalam Alhaidar