Sosok Dalam Bayangan



Sinar mentari mulai menaik ke ubun-ubun. Aisy menepi. Duduk di pinggiran teras musala sembari menunggu panggilan zuhur memanggil. Hanya dirinya sendiri. Tidak sepenuhnya benar sendiri, karena ditemani khayalan aneh yang sering melalang buana menoreh cerita. Ya.. untuk beberapa alasan dirinya menyukai saat-saat sendiri. Karena pikirannya bisa menembus langit ketujuh yang pada akhirnya Aisy akan pulang tergesa menuliskannya dalam diksi. Sepersekian detik petualangan pikirannya membeku. Tidak seperti biasanya yang selalu sampai di ending cerita.

Mencoba membangun rentetan imajinasi yang terberai, tetap tak bisa membuat jalan cerita di otaknya mencair. Sejak kedua bola matanya tanpa sengaja menangkap bayangan Irfan, saat itulah cerita petualangan yang akan diselesaikannya dalam kias kata, kacau balau. Aisy beristighfar dalam hati. Untuk beberapa kali ketika sosok itu terbias di pantulan retinanya, semua membeku. Terkecuali degup jantungnya yang berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Aisy jadi takut. Ini benar-benar tidak normal. Ya Allah.. ada apa?

Dia, ketua organisasi rohis. Yang selalu aktif dalam gema keislaman. Dia pula, pemenang dalam jejeran kompetisi bidang web design. Yang membuat mayoritas teman Aisy mengaguminya. Bahkan beberapa teman menjadi secret admirer, yang selalu mengirimi sekuntum bunga ataupun cokelat bahkan sebait sajak dalam kertas putih. Aisy muak sebenarnya ketika salah satu teman bercerita mengenai si ketua rohis itu. Tidak hanya satu dua atau tiga orang yang bercerita kekaguman atau bahkan kelebaian-nya. Dan Aisy harus memasang kuping lekat-lekat hanya untuk topik curhatan yang sama.

Ya.. tentang Irfan. Yang ending-nya membuat Aisy semakin mengenal sosok Irfan walaupun tak pernah bertegur sapa. Namun dirinya tak mengerti. Awal yang terdengar memuakkan semakin lama Aisy justru tertarik. Benar benar dirinya tak mengerti apa yang dirasakan. Apa ini yang namanya menyukai? Entahlah.. Ingin rasanya Aisy bertanya tentang hal yang tak bisa disebut normal ini pada karibnya. Tapi nyalinya tak berani. Nanti bisa menimbulkan salah persepsi. Mending tak usah digali lagi. Lagi pula ia tak senang berbagi cerita mengenai hal tak lazim seperti itu. Yang Aisy sendiri tak mengerti apa hal tak lazim itu. Ya Allah.. apakah aku falling in love?

“Hei. Jangan melamun Isy.”
Aisy menoleh. Rena membuyarkan pikirannya. Ia duduk di samping Aisy sambil tersenyum sesaat.
“Kenapa, Isy?” Tanya Rena menatap Aisy.
“Kamu seperti tak mengenal diriku saja yang suka berimajinasi ke segala arah, Ren. Hehe.”

Rena terkekeh. Ia pun mengerti kebiasaan karibnya itu. Tak bertahan lama percakapan mereka. Rena izin menemui Irfan karena ada suatu agenda rapat yang harus didiskusikan. Ia tergesa sembari menenteng map merah meninggalkan Aisy. Aisy mematung. Tanpa mengucapkan sepatah kata. Aisy hanya melihat kedua insan itu dari seberang tempatnya bersila. Rasanya sakit. Sulit menjabarkannya namun itulah yang dirasa. Aisy beranjak dan meninggalkan tempatnya bersila dan juga mereka. Langkahnya cepat, ingin segera berlalu dan sampai rumah. Alih-alih ingin menunggu azan zuhur akhirnya seperti ini. Bulir-bulir mata tanpa dirasa menetes membasahi pipi. Aisy menyekanya berulang-ulang sambil terus beristighfar. Ya Allah.. perasaan ini benar-benar nyata. Aisy menyeka bulir matanya untuk terakhir kalinya dan berlalu dengan angkutan merah yang sedikit bobrok, meninggalkan sekolah tingkat berwarna hijau itu dan juga Irfan.

“Isy. Titip bunga dong.”

Ara berdiri di depan meja Aisy sambil memegang bunga merah dengan senyum merekah. Aisy hanya terdiam dan tetap membenamkan kepalanya sedari tadi di atas meja. Kepalanya pening. Matanya sedikit sembab layaknya Panda. Padahal kemarin Aisy tak berniat untuk mengeluarkan bulir-bulir kristal dari matanya, tapi mengalir begitu saja. Dasar bodoh. Menangisi hal yang tak jelas.

“Isy. Ayo dong, bantuin aku.” Ara menggoyangkan tubuh Aisy. “Ini buat Irfan. Please..” bisik Ara di telinga Aisy. Aisy bangun terperanjat mendengar satu kata nama itu.
“Kenapa harus aku?!” Ucap Aisy nadanya mulai meninggi. Dirinya benar-benar lelah harus berurusan dengan yang namanya Irfan. Lelah memainkan perasaan sendiri. Mendengar namanya saja sudah tidak mau. Apalagi harus bertemu dengan sosok itu lagi? Hanya menambah problematika perasaan.

“Kamu kan suka nangkring di mesjid sama kayak Irfan. Kali aja ketemu gitu.”
‘Emang aku perempuan apa, Ra? Kamu sebut namanya aja hatiku sakit. Aku cape. Aku lelah. Aku takut kalau perasaan yang aku rasa ini jatuh semakin dalam. Aku tak mau sampai menomorduakan cinta-Nya. Sang Maha pemilik cinta.’
“Aku gak mau.” Aisy berlalu meninggalkan Ara. Ara mengejarnya tak terima mendengar tanggapan Aisy. Karena biasanya Aisy-lah Kuping kelinci Ara. Yang mendengar semua celotehan Irfan. Bahkan bukan cuman Ara yang berpikiran seperti itu bagi Aisy. Mayoritas menjadikan dirinya Kuping Kelinci. Yang harus menampung topik cerita yang sama berulang-ulang.

“Ayolah Isy. Kamu kenapa sih? Siapa lagi kalau bukan kamu yang bantuin aku?” Ucap Ara dari balik punggung Aisy. Aisy tak menghiraukannya dan terus berjalan menjauhi Ara. Bulir-bulir yang sekuat tenaga ditahan, tumpah membasahi pipi. Mungkin ini yang orang-orang bilang.. perasaan cemburu. Rasanya memang sakit seperti yang sering teman-temannya ceritakan padanya. Hatinya panas. Seperti itulah yang Aisy rasa.
“Kamu kenapa sih, Isy?”
“Apa jangan-jangan kamu menyukainya?”

Aisy berhenti sesaat. Begitu pun Ara yang mengikutinya. Aisy menyeka kedua pelupuk mata serta pipinya. Dan di saat yang bersamaan Irfan ke luar dari dalam lab sambil menenteng laptop-nya. Aisy tersentak dan lari meninggalkan Ara dengan cepat sebelum Irfan menangkap bayangan dirinya. Aisy tak peduli akan hipotesa Ara. Yang ia inginkan detik ini adalah mengasingkan diri dan menganggap tidak ada yang pernah terjadi. Dirinya masih berharap, ketika membuka kedua pelupuk mata esok hari, waktu bisa berputar ulang dan kembali ke masa lalu. Saat-saat dimana pemilihan masuk sekolah menengah atas.

Kalau tahu begini pada akhirnya, dirinya tak akan mau memilih sekolah ini. Sehingga tak ada Irfan. Tak ada perasaan aneh yang saat ini dirasa. Tapi dirinya lekas sadar bahwasanya hal itu tak akan pernah terjadi. Tak akan pernah kembali ke masa lalu. Yang ada hanyalah dirinya harus menghadapi kenyataan dan menyongsong masa depan. Dan mengakui sebuah fakta bahwasanya dirinya benar-benar jatuh Cinta, pada sosok yang bernama Irfan Rasyiq.

Cerita berawal dari celoteh yang tak dihiraukan. Menjadi gambaran nyata seakan kau mengenalnya padahal tidak. Seakan jarak kau dekat padahal tidak. Dan seakan kau mengetahui betul gambaran dan latar belakangnya. Padahal sama sekali tidak. Semua diawali dari cerita namun berimbas pada problematika perasaan. Aku merasakannya saat ini. Aneh kalau dipikir logika. Namun kadang rasa menyukai memang di luar logika. Abstrak. Dan sulit ditebak. Apakah rasa suka itu akan berimbas balik, aku tak peduli. Memikirkan hati ini dapat jatuh pada makhluk-Nya sudah membuatku tak mengerti. Namun kini aku mengerti satu fakta yang tak dapat dipungkiri. Aku menyukai Irfan. Ya Allah, tolong jaga hati ini. Agar tidak terkotori pada hal yang bukan semestinya. Kalau memang Irfan jodohku tolong pertemukan kami di sebuah ikatan pernikahan. Jika bukan, maka buat aku lupa akan perasaan yang tengah ku rasa kini. Aminn. Jakarta, 16 maret 1990. Aisyah Aila Varisha.

Perempuan berhijab itu tersenyum. Menutup buku mungil yang ditemukannya seusai berberes kamar. Ia kembali teringat kenangan 8 tahun lalu. Masa-masa putih abu-abu. Masa-masa dilema akan perasaan yang terlanjur jatuh pada sosok yang sedikit pun tak pernah menyadari hal itu. Sengaja ia biarkan tak siapa pun tahu. Biarlah hanya Allah yang mengetahui rahasia di hati.

“Sayang aku panggilin kamu sedari tadi. Kamu masih di sini.” Laki-laki setengah baya mengecup kening Aisy.
“Maafin aku ya Mas.”

Aisy melingkarkan seuntai dasi ke tengkuk suaminya itu dan memakaikannya. Aisy tersenyum, kembali mengingat masa lalu. Dia, Irfan Rasyiq. Yang dulu membuat perasaannya berkecamuk, sedih, aneh, sakit, nano-nano. Namun tergantikan dengan bulir air mata bahagia. Dia, alasan beribu pertanyaan hadir menghinggapi otak. Kini, terjawab dengan dia menjadi pendamping hidup. Hanya dia. Dan seterusnya.. hingga Allah mempertemukan, di surganya nanti. ‘Ya Allah.. betapa indah akhir cerita. Diawali perasaan yang memang fitrah, menjadi cerita yang akan terus berlanjut. Terima kasih telah mengirimkan jodohku. Janjimu selalu benar. Ku serahkan padamu Ya Allah. Kaulah pemilik setiap hati. Pemilik sang maha Cinta. Semoga Kau pertemukan aku dan dia di surga-Mu kelak. Amin.’

Cerpen Karangan: Fialafiatown
Wrote by Rohrafi Lafiatin